AKADEMISI Rocky Gerung menyoroti tragedi seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berinisial YBS (10), yang ditemukan meninggal dunia dalam dugaan bunuh diri karena keluarganya tidak mampu membelikan buku dan pena. Peristiwa ini dinilai Rocky sebagai gambaran bahwa ada persoalan mendasar dalam tata kelola negara.
“Saya baca berita dari NTT, anak umur 10 tahun memilih bunuh diri, saya pakai kata memilih untuk menyelamatkan hidup ibunya. Dia minta dibelikan buku, ibunya bilang tidak punya uang, lalu dia memilih bunuh diri. Itu satu tindakan republikanisme,” ujar Rocky.
Rocky kemudian menyinggung perbandingan harga buku dengan bantuan pemerintah sebesar Rp17 triliun yang disebut diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Anak 10 tahun bisa menulis surat kepada ibunya, ‘Ibu, saya pergi dulu. Ibu tidak perlu bersedih.’ Harga buku itu berapa? Sepuluh ribu rupiah. Sepuluh ribu itu berapa per mil dari Rp17 triliun yang disumbangkan Prabowo kepada Donald Trump,” kritiknya.
Rocky menilai keputusan tragis yang diambil siswa SD tersebut justru menunjukkan adanya rasionalitas yang lahir dari keputusasaan. “Apakah Prabowo punya etos republikanisme, atau justru anak 10 tahun yang mengambil keputusan rasional, walaupun dengan konsekuensi psikologis yang harus diperiksa? Itu tindakan sangat dewasa,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa tragedi ini memperlihatkan ada persoalan serius dalam pengelolaan negara. “Dia memilih pergi. Tanpa ragu, dia memutuskan hidupnya harus dihentikan supaya hidup ibunya berlanjut, hidup lima adiknya berlanjut, hidup kecamatan itu berlanjut, hidup kabupaten di NTT berlanjut. Ini supaya publik mengerti bahwa ada yang tidak beres dengan urusan Republik,” tegas Rocky.
Diketahui, YBS ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung pada Kamis, 29 Januari 2026, di pohon cengkeh yang berada tidak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Kasus ini pertama kali diketahui warga yang kemudian melaporkannya kepada polisi.
Dalam olah tempat kejadian perkara, petugas Polres Ngada menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis korban. Surat dalam bahasa daerah Ngada itu ditujukan kepada ibunya, berisi pesan agar sang ibu tidak bersedih dan merelakan kepergiannya. Di bagian akhir surat, korban menggambar simbol wajah menangis, yang kemudian memperkuat dugaan bahwa ia mengakhiri hidupnya secara sadar. (zu)












