Ragam  

Terik Matahari Tak Surutkan Semangat Penari Jelang Pembukaan Erau 2026

Terik Matahari Tak Surutkan Semangat Penari Jelang Pembukaan Erau 2026
Para penari yang sedang berlatih di Stadion Rondong Demang, jelang pembukaan Festival Budaya Erau Adat Kutai Tahun 2026. (Komparasinews/Habib Fajar)

KUTAI KARTANEGARA – Matahari masih terasa terik ketika ratusan penari mulai bergerak mengikuti irama. Keringat membasahi tubuh, tetapi tak membuat semangat mereka surut.

Di Stadion Rondong Demang Tenggarong, sebanyak 350 penari terus mematangkan gerakan untuk tampil dalam pembukaan Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026. Latihan berlangsung setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 17.30 Wita.

Di bawah bimbingan Komunitas Seni Budaya (KSB) Seraong Kaltim, para penari tidak hanya menghafal gerakan. Mereka juga mempersiapkan sebuah pertunjukan yang membawa pesan tentang kebersamaan dan tanggung jawab menjaga daerah.

Tarian massal itu mengusung tajuk “Penjaga Takhta di Tepi Sungai Mahakam.” Pertunjukan tersebut nantinya akan terdiri atas lima babak yang menggambarkan tanggung jawab bersama dalam menjaga daerah, khususnya Kalimantan Timur.

Baca Juga  Program Keluarga Harapan Diharapkan Ikut Menekan Angka Stunting Kaltim

Pendiri sekaligus Ketua KSB Seraong Kaltim, Misra Budiarto Ax, mengatakan latihan telah memasuki hari ketujuh sejak dimulai pada 19 Agustus 2026.

“Ini bukan saja tanggung jawab kepala daerah, pemerintah, atau Sultan. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” kata Misra saat latihan tari di Stadion Rondong Demang, Selasa (25/8/2026).

Ratusan penari yang terlibat berasal dari berbagai sanggar, kelompok, paguyuban hingga komunitas etnis. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya menghadirkan keberagaman budaya dalam satu panggung.

Sejumlah etnis di Kukar, seperti Bahau, Kenyah, Benua dan Tunjung, turut dilibatkan dalam pertunjukan tersebut. Unsur Melayu dan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura juga menjadi bagian dari kolaborasi.

Tarian massal itu merupakan kolaborasi antara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Cahaya Kedaton dan KSB Seraong Kaltim.

Baca Juga  Dukung Program Kukar Idaman, HUT Ke-104 Desa Selerong Tampilkan Beragam Seni Budaya

Untuk mendapatkan penari yang sesuai, proses seleksi dilakukan sejak awal. Sebagian besar penari berasal dari sanggar dan kelompok yang telah memiliki dasar tari.

“Lebih banyak usia SLTA. Ada juga beberapa dari SLTP, tetapi hanya hitungan jari,” ujar Misra.

Tak hanya kemampuan menari, ukuran tubuh dan kesiapan penampil juga menjadi pertimbangan. Semua itu dilakukan agar 350 penari dapat tampil maksimal saat hari pelaksanaan.

Persiapan pun tidak berhenti pada latihan gerakan. Para penari masih akan menjalani rangkaian latihan hingga mendekati hari pertunjukan.

Latihan dijadwalkan berlangsung hingga 17 September untuk geladi kotor. Sehari kemudian, para penari akan menjalani geladi bersih.

Pada 19 September, aktivitas latihan di lapangan dihentikan sementara. Para penari akan fokus pada penyelesaian kostum dan properti sebelum tampil pada 20 September 2026.

Baca Juga  PKS Kukar Beri Bantuan pada Korban Kebakaran di Desa Sanggulan

Berlatih di tengah cuaca panas tentu bukan perkara mudah. Karena itu, panitia dan KSB Seraong Kaltim menyiapkan kebutuhan dasar bagi para penari, termasuk air minum dan dukungan medis selama latihan. (fjr)