KUTAI KARTANEGARA — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menyusun dokumen Rencana Induk Pengelolaan (RIP) Keanekaragaman Hayati. Proses ini ditandai agenda Kick Off Meeting, Kamis (17/7/2025) di ruang Bengkirai Kantor DLHK Kukar.
Dokumen ini nantinya menjadi panduan perencanaan jangka menengah, khususnya dalam upaya menjaga dan mengelola kekayaan hayati yang dimiliki wilayah Kukar. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pentingnya keterlibatan desa dalam program ini.
Kepala Bidang Kerjasama Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar Dedy Suryanto menyampaikan pentingnya pelibatan lebih aktif pemerintah desa dalam penyusunan dokumen tersebut.
“Kami dari Dinas PMD mengusulkan agar lebih dilibatkan, khususnya dalam aspek yang berkaitan dengan pemerintahan desa. Karena sebagian besar lokasi kegiatan keanekaragaman hayati berada di desa, maka desa harus ikut ambil bagian,” jelas Dedy.
Dia mengatakan, dalam pertemuan awal tersebut keterlibatan DPMD belum tampak jelas. Karena itu pihaknya mengusulkan agar DPMD terlibat langsung dalam proses perencanaan ke depan.
Keterlibatan pemerintah desa dinilai akan membantu dalam pengumpulan data yang dibutuhkan, seperti data kewenangan desa, tata ruang, hingga pengelolaan lingkungan hidup.
“Karena banyak potensi keanekaragaman hayati yang berada di wilayah desa, terutama di Mahakam Tengah, pesisir, dan daerah bantaran sungai,” terang Dedy.
Beberapa contoh keanekaragaman hayati slot gacor gampang menang yang menjadi perhatian adalah pesut Mahakam dan tanaman anggrek. Desa Kalailir, Kecamatan Kenohan, terdapat jenis anggrek yang belum banyak diketahui masyarakat, dan hal ini perlu menjadi bagian dari pelestarian.
Dedy juga menegaskan bahwa DPMD sebagai pembina pemerintahan desa harus terlibat aktif, terutama dalam mendampingi desa-desa dalam pelaksanaan program pelestarian lingkungan yang diinisiasi DLHK.
“Nantinya dokumen ini akan menjadi panduan arah kebijakan untuk lima tahun ke depan dalam menjaga lingkungan hidup di tingkat desa,” tandasnya. (fjr)












