Harga Pertamax Tembus Rp16 Ribu, Warga Tenggarong Mulai Hitung Ulang Pengeluaran

Harga Pertamax Tembus Rp16 Ribu, Warga Tenggarong Mulai Hitung Ulang Pengeluaran
Tampak depan SPBU di Kecamatan Tenggarong, Kukar. (Komparasinews/Habib Fajar)

KUTAI KARTANEGARA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang kini menembus Rp16 ribu per liter mulai dirasakan masyarakat di Tenggarong. Sejumlah pengguna kendaraan mengaku harus menghitung ulang pengeluaran bulanan karena biaya operasional kendaraan ikut meningkat.

Penyesuaian harga yang berlaku sejak 10 Juni 2026 tersebut menambah beban masyarakat di tengah berbagai kebutuhan hidup yang juga mengalami kenaikan. Bagi sebagian warga, mengisi tangki kendaraan kini tidak lagi menjadi rutinitas tanpa perhitungan.

Salah seorang warga Tenggarong, Febri Andrean, mengaku terkejut dengan lonjakan harga Pertamax. Selama sekitar empat tahun terakhir, dia memilih menggunakan BBM tersebut karena dinilai sesuai dengan spesifikasi kendaraannya.

Menurutnya, kenaikan harga kali ini berdampak langsung pada anggaran transportasi yang harus disiapkan setiap bulan.

“Biasanya saya tidak terlalu memperhatikan saat isi BBM karena sudah jadi kebutuhan rutin. Tetapi sekarang mau isi penuh tangki pun jadi harus dihitung dulu, takut pengeluaran bulanan membengkak,” kata Febri, Kamis (11/6/2026).

Baca Juga  Pemkab Kukar Tegaskan Festival Erau 2026 Tetap Digelar Meski Penyesuaian Anggaran

Meski merasa keberatan, Febri masih mempertahankan penggunaan Pertamax. Namun, dia mengaku akan mempertimbangkan alternatif lain jika kebutuhan rumah tangga semakin meningkat.

“Untuk saat ini saya cenderung tetap menggunakan Pertamax karena sudah sesuai dengan kendaraan saya. Tetapi kalau memang ada kebutuhan lain yang lebih mendesak, tentu harus mencari pilihan yang lebih hemat,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dirasakan pengemudi ojek online yang bergantung pada kendaraan untuk mencari penghasilan. Kenaikan harga BBM dinilai langsung menekan biaya operasional harian.

Zaini Ali, pengemudi ojek online di Tenggarong, mengatakan dirinya lebih sering menggunakan Pertalite untuk menghemat biaya. Namun pilihan tersebut kerap terkendala antrean panjang di SPBU.

“Kalau antre terlalu lama, kita rugi waktu. Tapi kalau langsung isi Pertamax juga biaya harian bertambah. Jadi serba salah sebenarnya,” ttuturnya

Baca Juga  Sasar Pelajar Kurang Mampu, Program Bimbingan Belajar dari TNI Hadir di Tenggarong

Zaini menjelaskan, pengemudi kini dituntut lebih cermat mengatur pengeluaran agar pendapatan tetap seimbang dengan biaya operasional.

“Untuk saat ini lebih sering pakai Pertalite. Tetapi kalau Pertalite tidak ada atau antreannya panjang, terpaksa pakai Pertamax,” katanya.

Dampak kenaikan harga juga mulai dikhawatirkan pedagang BBM eceran. Mereka memprediksi konsumen akan mengurangi pembelian atau beralih ke BBM yang lebih murah.

Salah seorang pengecer BBM di Tenggarong, Jumiadi, menilai kenaikan harga Pertamax kali ini cukup signifikan dan berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.

“Harusnya kalau naik paling seribu ya enggak apa-apa. Ini langsung Rp16 ribu. Berat nanti anak-anak beli lagi kalau kayak gitu kan,” ujarnya.

Jumiadi biasanya membeli sekitar 20 liter Pertamax untuk dijual kembali secara eceran. Namun kini ia mulai mengurangi stok karena khawatir permintaan menurun.

Baca Juga  Tegas! DPRD Kaltim Sebut Tak Ada Mediasi untuk Pelaku Tambang Ilegal

“Dahulu saya ambil 20 liter biasanya habis semalam. Kalau sekarang saya belum berani ambil sebanyak itu, takut pembeli berkurang karena harga sudah terlalu tinggi,” tuturnya.

Jumiadi menilai masyarakat akan semakin selektif dalam membeli BBM jika tren kenaikan harga terus berlanjut.

“Harapannya bisa standar saja harganya. Kalau seperti ini harganya tidak bakalan laris,” pungkasnya. (fjr)