KUTAI KARTANEGARA – Kerusakan parah pada jalan penghubung Kecamatan Kota Bangun menuju Kenohan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar). Ruas jalan yang menjadi jalur vital mobilitas masyarakat tersebut kini tengah disiapkan untuk penanganan percepatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar Wiyono mengatakan, pihaknya telah dipanggil langsung oleh Bupati Kukar untuk membahas langkah konkret perbaikan di lapangan.
“Beliau berharap agar ada percepatan langkah-langkah penanganan di lapangan,” ujar Wiyono, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, panjang ruas jalan yang mengalami kerusakan mencapai sekitar 4 kilometer. Dari total tersebut, terdapat tujuh titik yang kondisinya cukup parah dan membutuhkan penanganan segera.
Untuk penanganan awal, Pemkab Kukar telah mengalokasikan anggaran dalam APBD 2026. Dana yang disiapkan terdiri dari Rp5 miliar untuk pemeliharaan rutin serta Rp10 miliar untuk pekerjaan konstruksi.
“Totalnya kurang lebih Rp15 miliar. Arahan Bupati agar prosesnya bisa dipercepat sesuai kemampuan anggaran yang ada,” jelasnya.
Meski begitu, Wiyono mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan dalam perbaikan infrastruktur jalan di Kukar. Dinas PU tidak hanya menangani kerusakan di ruas Kota Bangun–Kenohan, tetapi juga di sejumlah wilayah lain seperti Muara Kaman dan beberapa kecamatan lainnya.
Dengan luas wilayah Kukar yang besar, penanganan jalan harus dilakukan secara bertahap. Pemerintah daerah memprioritaskan titik-titik dengan tingkat kerusakan paling berat serta berdampak langsung terhadap mobilitas warga dan distribusi barang.
Dia juga menyoroti faktor teknis yang mempercepat kerusakan jalan. Menurut Wiyono, tidak semua ruas dapat diperbaiki hanya dengan pelapisan aspal karena kondisi tanah dan lingkungan di beberapa titik cukup berat.
“Kelas jalan kabupaten idealnya untuk beban 8 sampai 10 ton. Namun kendaraan yang melintas sering kali melebihi kapasitas tersebut, ditambah faktor cuaca,” katanya.
Lanjut Wiyono, pihaknya tetap berkomitmen melakukan penanganan secara bertahap setiap tahun. Namun, laju kerusakan jalan yang lebih cepat dibanding kemampuan anggaran kerap menjadi kendala dalam perbaikan secara menyeluruh.
“Pada prinsipnya kami tetap berupaya melakukan penanganan setiap tahun. Hanya saja, kecepatan kerusakan sering kali lebih tinggi dibandingkan kemampuan anggaran untuk memperbaiki,” pungkasnya. (fjr)












