Ramai Seruan Boikot Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Presiden FIFA Bilang Begini

Gianni Infantino. (istimewa)

JAKARTA – Seruan boikot Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat belakangan mengemuka. Pasalnya Amerika Serikat dengan kebijakan-kebijakan politik kontroversialnya berkaitan dengan aspek keselamatan dianggap tidak layak menggelar turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan tanggapan setelah beberapa suara boikot Piala Dunia mulai nyaring terdengar jelang dimulainya Piala Dunia 2026.

“Dengar, saya adalah orang yang selalu menentang segala bentuk pelarangan dan boikot. Boikot tidak pernah membawa hasil positif. Boikot hanya membawa lebih banyak kebencian, lebih banyak perpecahan, dan lebih banyak isolasi,” ujarnya.

Baca Juga  Hampir 50 Persen Calon Petahana Gagal Terpilih Kembali dalam Pilkades Serentak Paser

Gianni mengajak semua pihak untuk menyikapi polemik ini dengan jujur. Bukan hanya tentang sepak bola, melainkan juga tentang perdagangan, politik, dan olahraga. 

“Apakah ada orang di sini yang meminta Inggris untuk berhenti berdagang dengan Amerika Serikat? Saya rasa tidak. Apakah ada yang meminta perusahaan-perusahaan besar Eropa untuk menarik diri dari pasar Amerika? Tentu tidak,” ungkapnya.

“Jadi, mengapa sepak bola yang harus menjadi sasaran? Mengapa sepak bola selalu menjadi satu-satunya instrumen yang diminta untuk menghukum suatu bangsa atau masyarakat?” sambung Gianni.

Baca Juga  SLB Sangatta Utara Jadi Juara Favorit di Gerak Jalan Merdeka Belajar

Menurut dia, tugas FIFA adalah menyatukan dunia. Di dunia yang sedang terpecah-pecah seperti saat ini, Gianni menegaskan sepak bola harus menjadi jembatan. 

“Jika kita mulai melarang negara ini atau negara itu hanya karena kita tidak setuju dengan kebijakan politiknya, maka pada akhirnya kita tidak akan memiliki siapa pun lagi untuk bermain bola bersama,” tandasnya.

Diketahui beberapa peristiwa politik dan keamanan di Amerika Serikat belakangan ini memicu seruan boikot. Di antaranya penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, pembunuhan warga Amerika Serikat oleh ICE, pembentukan Board of Peace dalam konflik Palestina, isu perebutan Greenland, hingga ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran. (xl)