KUTAI KARTANEGARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak El Nino. Terutama ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sejumlah titik panas juga sudah terdeteksi di beberapa kecamatan. Berdasarkan data BMKG, terdapat 7 titik panas yang terpantau di Kukar, masing-masing dua titik di Kota Bangun Darat dan Sebulu, serta masing-masing satu titik di Loa Janan, Loa Kulu, Marang Kayu, dan Sebulu.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kukar Abdal mengatakan, pihaknya masih melakukan persiapan standar. Namun status siaga diberlakukan selama 24 jam.
“Personel siaga 24 jam. Mobil pemadam dan pompa baik yang mobile maupun portabel sudah kami siapkan,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menurut BMKG, puncak panas ekstrem akibat El Nino diperkirakan terjadi pada Juni mendatang. Meski April–Mei dianggap belum mengkhawatirkan, BPBD menilai antisipasi tetap harus dilakukan lebih awal.
“Puncaknya nanti di Juni. Tapi persiapan harus sejak sekarang,” jelas Abdal.
Adapun wilayah yang selama ini rawan karhutla di Kukar antara lain Muara Kaman, Samboja, Muara Badak, Kota Bangun Darat, dan Kota Bangun.
Selain ancaman kebakaran, BPBD Kukar juga bersiap menghadapi potensi kekeringan di sejumlah kecamatan. Tahun lalu, daerah seperti Loa Kulu dan Sebulu mengalami kekurangan air bersih hingga memerlukan suplai air tangki.
“Kalau kemarau panjang, potensi kekeringan pasti ada. Tahun lalu beberapa wilayah minta distribusi air bersih,” katanya.
BPBD juga mulai mengimbau pemerintah kecamatan dan desa meningkatkan kewaspadaan. Namun untuk patroli pencegahan karhutla, koordinasi lintas instansi masih dalam pembahasan.
“Patroli bersama masih kami bicarakan lebih lanjut dengan Dinas Kehutanan dan KPHP,” ucap Abdal.
Dalam waktu dekat, BPBD Kukar dijadwalkan ikut rapat koordinasi bersama BPBD Provinsi Kaltim dan Otorita IKN untuk menyelaraskan langkah menghadapi ancaman karhutla kawasan regional.
Abdal menyebut hingga kini belum ada penambahan unit peralatan pendukung. Meski sarana terbatas, BPBD Kukar mengandalkan kolaborasi dengan relawan dan instansi terkait.
“Kami maksimalkan yang ada. Tidak bekerja sendiri, tetapi berkoordinasi dengan relawan dan UPT KPHP,” tegasnya. (fjr)












