KUTAI KARTANEGARA – Di penghujung sore, jalan dari Tenggarong menuju Desa Wisata Kedang Ipil tampak lengang. Tim Komparasinews.id menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dengan sepeda motor.
Aspal mulus perlahan berganti tanah dan kerikil saat memasuki kawasan desa. Getaran kecil dari roda yang menghantam batu-batu menjadi penanda tujuan sudah dekat.
Sesampainya di Kedang Ipil, suasana hangat langsung menyambut di balai desa. Warga tampak sibuk, namun tetap ramah menyapa setiap tamu yang datang.
Mereka tengah bersiap menyambut Festival Budaya Kutai Adat Lawas “Nutuk Beham” yang akan digelar pada 23–25 April 2026. Semua dikerjakan bersama-sama tanpa sekat, tanpa peran kaku. Setiap orang tahu apa yang harus dilakukan.
Di samping balai, ibu-ibu dan bapak-bapak mengelilingi tungku sederhana. Mereka menyangrai padi ketan, atau yang disebut “beham”.
Asap tipis mengepul, membawa aroma khas padi yang dipanaskan. Inilah tahap awal sebelum beham ditumbuk dalam prosesi inti Nutuk Beham.
Tradisi ini merupakan cara masyarakat mengolah padi ketan menggunakan lesung dan alu, sebagai wujud syukur atas hasil panen.
“Ini disangrai dulu, kalau sudah masak baru didinginkan,” ujar Mariana, salah satu warga, sembari terus mengaduk beham di atas wajan.
Sebelum disangrai, padi ketan direndam selama satu hingga dua malam. Proses itu, kata Mariana, sudah dilakukan sejak lama.
“Memang sudah tradisi, dari nenek moyang dulu,” tambahnya.
Biasanya, nutuk beham dilaksanakan setahun sekali, bertepatan dengan musim panen atau menjelang panen. Namun bagi warga Kedang Ipil, persiapannya sama pentingnya dengan prosesi utama.
Gotong royong di balai desa menjadi bagian dari makna perayaan itu sendiri.
Menjelang malam, warga terus berdatangan.
Mereka bergantian menyangrai beham, menyiapkan peralatan, atau sekadar duduk berbincang.
Suasana kian ramai, tetapi tetap akrab. Tak ada wajah yang sibuk dengan gawai. Interaksi berlangsung alami, tanpa perantara layar.
Kehangatan seperti ini terasa kontras dengan kehidupan di kota. Di tempat lain, orang berkumpul di kafe atau pusat perbelanjaan. Di Kedang Ipil, kebersamaan justru tumbuh dari kerja bersama.
Malam itu, warga juga disuguhi pemutaran film dokumenter berjudul “Ruang Sesak”. Film karya anak bangsa itu mengangkat cerita dan potensi Desa Kedang Ipil, dengan melibatkan warga sebagai bagian dari kisahnya.
Film diputar melalui layar tancap di depan balai desa. Warga berkerumun, menyimak dengan serius. Sesekali tawa pecah saat wajah-wajah yang mereka kenal muncul di layar bahkan diri mereka sendiri.
Di tengah persiapan itu, Wakil Ketua Adat Kedang Ipil, Sartin, menegaskan bahwa tradisi nutuk beham telah lama hidup di tengah masyarakat.
Dulu, kata dia, pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran di tiap kelompok perladangan.
“Tidak serempak. Kelompok yang satu mengadakan, kelompok lain datang berkunjung,” jelasnya.
Sejak sekitar 2015, tradisi ini mulai disatukan dalam satu pelaksanaan di tingkat kampung. Meski ada penyesuaian, semangat kebersamaan tetap terjaga.
Hingga larut malam, aktivitas di balai desa belum benar-benar berhenti. Warga datang dan pergi, bergantian mengambil peran.
Di antara asap tungku, riuh percakapan, dan cahaya remang, tersimpan satu hal yang terasa kuat yakni festival ini bukan hanya agenda tahunan, melainkan cara warga merawat ingatan, kebersamaan, dan tradisi yang terus hidup. (fjr)












