KUTAI KARTANEGARA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kutai Kartanegara (Kukar) sepanjang Agustus 2026 menunjukkan pola yang berbeda antara frekuensi kejadian dan luas lahan yang terbakar. Berdasarkan rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar hingga 31 Agustus 2026, tercatat 142 kejadian Karhutla dengan total luasan mencapai 1.304,58 hektare.
Muara Jawa menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak. Sebanyak 26 kejadian tercatat sepanjang Agustus dengan total lahan terbakar sekitar 69,081 hektare.
Sementara dari sisi luasan, Kecamatan Sanga-Sanga menjadi wilayah paling terdampak. Meski hanya mencatat lima kejadian, luas lahan yang terbakar mencapai 354 hektare.
Sebagian besar luasan tersebut berasal dari kebakaran di Kelurahan Pendingin yang mencapai 318 hektare.
Kondisi serupa terlihat di Kecamatan Muara Muntai. Hanya terdapat lima kejadian, tetapi luas lahan yang terbakar mencapai 202 hektare. Dua kebakaran terbesar berada di Desa Muara Aloh dan Desa Kayu Batu, masing-masing sekitar 126 hektare dan 74 hektare.
Di wilayah lain, Muara Badak mencatat 24 kejadian dengan luasan terbakar 186,255 hektare. Salah satu kejadian terbesar terjadi di Desa Salo Palai pada 30 Agustus, dengan area terbakar sekitar 70 hektare.
Samboja juga mencatat angka cukup tinggi, yakni 23 kejadian dengan luasan 132 hektare. Sedangkan Muara Kaman mencatat enam kejadian dengan total luasan 132,399 hektare, termasuk kebakaran sekitar 80 hektare di Desa Puan Cepak dan 50 hektare di Desa Sabintulung.
Kepala Pelaksana BPBD Kukar Setianto Nugroho Aji mengatakan, penanganan setiap laporan dilakukan dengan melibatkan unsur terkait di wilayah kejadian.
“Untuk penanganan Karhutla, kami terus berkoordinasi dengan TNI-Polri, relawan, maupun tim gabungan penanggulangan Karhutla di tingkat kecamatan,” kata Setianto, Rabu (2/9/2026).
Dia mengatakan kondisi setiap lokasi berbeda sehingga penanganan disesuaikan dengan situasi di lapangan. Di sisi lain, data tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi Karhutla di Kukar.
Sejumlah wilayah seperti Kenohan, Muara Wis, Kota Bangun Darat, Samboja Barat, dan Anggana masih belum seluruh laporannya masuk dalam rekapitulasi. Karena itu, angka 142 kejadian dan 1.304,58 hektare masih berpotensi berubah setelah laporan tambahan diterima dan diverifikasi.
BPBD Kukar memastikan pemantauan tetap dilakukan bersama TNI-Polri, relawan, pemerintah kecamatan, serta tim gabungan selama kondisi kemarau masih berlangsung. (fjr)












