KUTAI KARTANEGARA — Aktivitas di SMP Negeri 3 Tenggarong tetap berjalan seperti biasa pada Kamis (3/9/2026). Guru datang ke sekolah dan proses belajar mengajar tetap berlangsung. Namun ada yang berbeda, tidak satu pun siswa datang ke sekolah.
Para siswa mengikuti pembelajaran dari rumah setelah Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai 3 hingga 8 September 2026.
Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi kualitas udara yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kukar.
Di SMPN 3 Tenggarong, para guru tetap mengajar dari sekolah. Mereka menempati ruang kelas masing-masing dan terhubung dengan siswa melalui aplikasi pembelajaran daring seperti Zoom dan Google Meet.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Tenggarong, Inawati, mengatakan PJJ hanya mengubah lokasi belajar siswa. Sementara guru tetap menjalankan aktivitas mengajar dari sekolah.
“PJJ itu sebenarnya muridnya aja. Gurunya itu semua di sekolah. Karena ada Zoom, ada yang Google Meet, ada yang di sini, ada yang ke kelas,” ujar Inawati.
Pola tersebut dinilai lebih mudah diterapkan karena SMPN 3 Tenggarong sebelumnya memang telah mengembangkan pembelajaran berbasis digital. Siswa dan guru telah dilengkapi Chromebook. Ruang kelas juga memiliki papan tulis digital, router dan jaringan WiFi yang menunjang pembelajaran daring.
Meski demikian, Inawati mengatakan pembelajaran tatap muka tetap lebih nyaman karena guru dapat berinteraksi langsung dengan siswa dan melihat respons mereka selama proses belajar.
“Lebih enak di sekolah sebenarnya. Kita tidak begitu repot langsung ke kelas, bertatap muka langsung dengan anak, berinteraksi,” katanya.
Pada hari pertama, pelaksanaan PJJ secara umum berjalan lancar. Gangguan sempat terjadi ketika listrik padam, namun tidak berlangsung lama.
Sekolah juga tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas siswa. Guru diminta mendokumentasikan proses pembelajaran dan melaporkannya melalui grup komunikasi sekolah.
Bagi guru yang belum terbiasa menggunakan teknologi, sekolah menerapkan pendampingan antarguru. Guru yang lebih muda membantu rekan-rekannya dalam menjalankan pembelajaran daring.
Dengan pola tersebut, kegiatan belajar tetap berlangsung meski siswa untuk sementara tidak berada di lingkungan sekolah.
“Yang penting pembelajaran tetap berjalan, anak-anak tetap mendapatkan materi, dan kami sebagai guru tetap bisa mendampingi walaupun sementara dilakukan secara daring,” kata Inawati. (fjr)












