JAKARTA – Aliansi Ibu Indonesia menolak dan mengkritik keras program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebagaimana disuarakan Annette Mau, perwakilan Aliansi Ibu Indonesia dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Komisi IX DPR RI.
Anette secara tajam mengkritik implementasi program MBG yang ramai sorotan. Dia mempertanyakan urgensi etika di dalamnya, menyebutnya seksis dan melecehkan perempuan, menyoroti betapa memprihatinkannya nasib anak-anak yang justru jatuh sakit, bahkan keracunan setelah menyantap makanan yang disediakan program tersebut.
“Pakai uang kami, pakai keringat kami, yang harus kami serahkan dan enggak boleh berdebat, pajak main potong. Tetapi ketika Anda memberi anak kami makan, tolong beradablah!” seru Anette.
Dia lantas menyoroti minimnya tanggung jawab negara. banyak orang tua yang tidak memiliki bpjs harus berjuang sendiri membawa anak mereka ke rumah sakit berhari-hari pascakeracunan. Tanpa permintaan maaf, tanpa kompensasi, tetapi narasi “membela orang miskin” tetap didengungkan.
“How dare you! Bagaimana mungkin mereka tidak bisa bayar iuran BPJS. Anaknya keracunan, diracuni negara. Yang kerepotan pemerintah daerah, bukan pemerintah pusat,” kata Annette.
Dikatakan pula bahwa MBG merupakan kebijakan yang seksis dan menghina perempuan. Dia menilai program ini tidak melibatkan suara ibu, meminggirkan peran perempuan, dan boros anggaran di tengah kesulitan ekonomi masyarakat.
“Jangan dilawan perempuan soal pengertian gizi. Ibu belum tentu lulusan ahli gizi, tetapi kami tahu, ibu tidak akan memberi makan anak kami lele mentah,” sebut Anette.
Disampaikan, program ini menyingkirkan peran ibu dalam urusan pengasuhan dan pemberian makan anak, yang dinilai merendahkan kapasitas perempuan. Tidak adanya pelibatan perempuan dan kelompok masyarakat dalam perencanaan dan uji coba program membuat implementasinya dianggap serampangan.
“Maaf, saya tidak merasa bangga Ibu Nanik SD yang menggantikan menjadi kepala BGN. Maaf, dia tidak berada di pihak kami walau dia berjenis kelamin perempuan. karena kalau dia perempuan yang benar-benar seorang ibu, dia akan paham, bukan seperti ini cara memberi makan kepada anak-anak,” lanjutnya.
Program ini menyingkirkan peran ibu dalam urusan pengasuhan dan pemberian makan anak, yang dinilai merendahkan kapasitas perempuan. Tidak adanya pelibatan perempuan dan kelompok masyarakat dalam perencanaan dan uji coba program membuat implementasinya dianggap serampangan.
“Saya tidak bicara proyek strategis nasional lainnya. MBG adalah proyek awal, ini adalah proyek pertama yang menghinakan ilmu pengetahuan dan perempuan,” tutur Annette.
Dia menegaskan, masyarakat lebih membutuhkan lapangan pekerjaan, pendidikan gratis, dan layanan kesehatan dasar yang lebih memadai ketimbang distribusi makanan secara massal. (xl)












