Drama Pencekalan Warnai Piala Dunia 2026: Dari Pemain, Wasit, hingga Suporter

Drama Pencekalan Warnai Piala Dunia 2026: Dari Pemain, Wasit, hingga Suporter
Ilustrasi.

JAKARTA – Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Kanada, Amerika Serikat (AS), dan Meksiko baru akan dimulai pada 11 Juni 2026 besok. Namun sejumlah kontroversi telah mencuat, membuat publik bertanya perihal ketepatan pemilihan ketiga negara itu sebagai tuan rumah.

Redaksi Komparasinews.id mencatat beberapa kontroversi yang terjadi dalam dua hari terakhir. Seperti penahanan beberapa pemain timnas peserta turnamen.

Dimulai dari visa pemain Swiss, Embolo, yang ditahan untuk ditinjau ulang. Akibatnya, dia baru bisa bergabung dengan timnya beberapa hari lagi.

Hal serupa dialami pemain timnas Irak, Aymen Hussein. Dirinya ditahan untuk interogasi selama hampir tujuh jam saat memasuki AS. 

Baca Juga  Jembatan Sei Kasungai Buka Peluang Wisata dan Arung Jeram di Pedalaman Paser

Pun demikian dengan para pemain timnas Iran yang menghabiskan beberapa hari untuk prosedur visa di konsulat AS yang ada di Turkiye. AS hanya mengizinkan mereka masuk saat hari-hari pertandingan. Sebanyak 15 anggota delegasi mengalami penolakan visa.

Kemudian, ada timnas Afrika Selatan yang datang terlambat di AS dari yang sebelumnya dijadwalkan. Hal ini dikarenakan sebagian delegasi tidak diterima visanya.

Lalu ada staf timnas Senegal yang dipaksa membuka sepatunya untuk menjalani pemeriksaan yang memakan waktu lama. Hal tersebut lantas menimbulkan tudingan adanya rasisme terhadap staf tersebut.

Timnas Uzbekistan lebih parah lagi. Mereka dilakukan pemriksaan dengan anjing pelacak bom. Potongan video pemeriksaan itu lantas beredar viral melalui media internasional.

Baca Juga  Bapenda Kaltim Berikan Penghargaan pada Masyarakat yang Taat Bayar Pajak

Bukan hanya pemain, wasit pun ikut kena cekal di AS. Adalah Omar Abdulkadir Artan, wasit terbaik Afrika versi CAF tahun 2025, yang visanya ditolak AS. Meskipun pergi ke AS dengan paspor diplomatik, pendaftarannya ditolak dan dikirimkan balik. FIFA lantas mengumumkan bahwa Omar tidak akan memimpin turnamen.

Pencekalan juga dialami beberapa suporter Skotlandia. Walaupun berhak memasuki AS melalui program bebas visa ESTA, izin bepergian mereka dibatalkan hanya beberapa hari sebelum keberangkatan. 

Selain itu, banyak suporter yang aplikasi visanya ditolak, padahal mereka sudah membeli tiket dan memesan akomodasi. Sehingga para suporter ini mengalami kerugian finansial yang tidak sedikit. (xl)