Nutuk Beham Kedang Ipil: Suara Lesung yang Menjaga Warisan dan Ingatan

Nutuk Beham Kedang Ipil: Suara Lesung yang Menjaga Warisan dan Ingatan
Bupati Aulia Rahman Basri mengikuti rangkaian Festival Nutuk Beham di Kedang Ipil. (Fajar/Komparasinews)

SENJA itu, langit di Desa Wisata Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, perlahan meredup. Namun suasana di Balai Desa justru makin hidup.

Warga berkumpul. Ada yang mengenakan pakaian adat. Sementara alunan ritual menyambut dimulainya Festival Kutai Adat Lawas “Nutuk Beham”, Kamis (23/4/2026).

Di tengah suasana yang khidmat, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri tiba, disambut prosesi adat. Dia berjalan perlahan mengikuti rangkaian ritual, sebelum akhirnya bergabung bersama masyarakat yang lebih dahulu memenuhi area sekitar balai desa. Tak ada jarak yang terlihat, semua larut dalam satu perayaan yang sama.

Tak lama setelah pembukaan, langkah-langkah kaki berpindah ke lokasi lain di sekitar balai. Di sana, asap tipis mengepul dari tungku-tungku kayu bakar. Warga tengah menyangrai padi ketan, atau yang mereka sebut “beham”.

Bupati pun ikut mendekat, berbaur tanpa canggung, mencoba mengaduk padi di atas wajan besar seperti yang dilakukan warga. Aroma padi yang disangrai bercampur dengan asap tipis hasil kayu api yang terbakar, menghadirkan suasana yang sederhana namun hangat. Di tempat itu, tradisi tidak hanya ditonton, tetapi juga dirasakan langsung.

Baca Juga  Banyak Pelajar Langgar Lalu Lintas, Polres Kukar Sebut Edukasi Belum Efektif

Ketika proses sangrai selesai, perhatian Bupati beralih ke prosesi inti yakni menutuk. Lesung dan alu disiapkan. Satu per satu, Bupati bersama rombongan mulai menumbuk padi. Bunyi “duk… duk… duk…” terdengar berirama, berpadu dengan gerak tangan yang teratur.

Butiran padi yang terlepas jatuh ke tampi, menjadi bagian dari proses panjang yang telah diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Kedang Ipil, bunyi alu yang menghentak lesung bukan sekadar suara. Itu penanda kerja keras, musim panen, dan rasa syukur.

Aulia Rahman Basri bilang, Nutuk Beham bukan hanya tradisi. Tetapi juga simbol dari perjalanan panjang petani dalam mengolah hasil panen.

Baca Juga  Gubernur Isran Noor Imbau Masyarakat Kaltim Tidak Lakukan Illegal Fishing

“Ini adalah proses mengeluarkan beras dari padi, yang menjadi simbol dari hasil kerja masyarakat dalam bertani,” ujarnya di sela kegiatan.

Aulia menegaskan, pemerintah daerah ingin tradisi seperti ini tetap hidup dan tidak tergerus zaman. Karenanya, Festival Nutuk Beham diharapkan terus digelar setiap tahun, menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga adat istiadat mereka.

Tak hanya itu, keterlibatan generasi muda juga menjadi perhatian. Di tengah arus modernisasi, anak-anak dan pelajar didorong untuk ikut mengenal tradisi ini secara langsung, bukan sekadar mendengar cerita.

“Kami berharap ke depan ada keterlibatan anak-anak sekolah agar mereka bisa mengenal langsung tradisi ini,” kata Aulia.

Setelah mencoba semua prosesi, Bupati lalu membuka tradisi syukur pasca panen masyarakat Kedang Ipil itu dengan seremonial.

Baca Juga  Grup Band Legendaris Slank Ramaikan Perayaan HUT Ke-68 Provinsi Kaltim

Tetapi, Festival bukan hanya tentang seremonial pembukaan, namun tentang menghidupkan kembali ingatan masyarakat. Tentang bagaimana padi diolah, bagaimana kebersamaan dijaga, dan bagaimana tradisi tetap diberi ruang untuk tumbuh.

Di Kedang Ipil, nutuk beham tidak hanya prosesi. Dia adalah cerita yang terus diulang dan dirawat agar hilang. (fjr)