KUTAI KARTANEGARA – Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah dinilai mulai memberi tekanan besar terhadap sektor perkebunan kelapa sawit di Kutai Kartanegara (Kukar) . Biaya operasional perusahaan disebut terus meningkat dan berdampak pada produktivitas hingga kesejahteraan pekerja.
General Manager (GM)PT Mitra Bangga Utama, M Chairuddin mengatakan, tingginya nilai dolar membuat hampir seluruh kebutuhan operasional perusahaan mengalami kenaikan harga.
“Ada dampaknya. Biaya operasional meningkat, mulai dari kebutuhan karyawan, spare part, pupuk sampai solar. Akibatnya berpengaruh terhadap produktivitas,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (20/5/2026).
Menurut Chairuddin, meningkatnya biaya operasional membuat perusahaan harus menekan pengeluaran. Kondisi itu dinilai berdampak langsung terhadap semangat kerja karyawan dan hasil produksi perkebunan.
“Kalau kebutuhan tidak terpenuhi, semangat kerja berkurang. Produksi akhirnya ikut turun,” katanya.
Chairuddin menilai tekanan ekonomi saat ini tidak hanya dirasakan industri sawit. Tetapi juga sektor perkebunan lain seperti karet dan kakao yang banyak berhenti beroperasi karena tingginya biaya produksi.
Dia menyebut kondisi industri perkebunan saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Dikatakan, perusahaan sawit dahulu masih mampu memberikan bonus besar kepada pekerja, namun kini banyak perusahaan kesulitan mempertahankan operasional.
“Sekarang jangankan bonus besar, banyak perusahaan bertahan saja sudah sulit,” ujarnya.
Selain persoalan nilai dolar, Chairuddin juga menyoroti mahalnya harga pupuk dan distribusi kebutuhan produksi yang dinilai masih bergantung pada pihak ketiga. Dia berharap pemerintah memberi kemudahan bagi perusahaan untuk membeli pupuk langsung ke pabrik agar biaya produksi dapat ditekan.
Dalam kesempatan itu, Chairuddin juga meminta pemerintah mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat produksi pangan dalam negeri untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Kalau kebutuhan pangan dalam negeri terpenuhi, kita tidak terlalu bergantung pada dolar,” katanya.
Chairuddin menilai penguatan sektor pangan dan pertanian menjadi salah satu langkah penting menjaga daya tahan ekonomi di tengah fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Saat ini, PT Mitra Bangga Utama masih menjual hasil sawit dalam bentuk tandan buah segar (TBS) karena belum memiliki pabrik pengolahan crude palm oil (CPO). Disebut, keterbatasan lahan menjadi kendala utama pembangunan pabrik sawit.
“Lahan produktif kami sekarang tinggal sekitar 700 hektare sehingga belum memungkinkan membangun pabrik,” ujarnya. (fjr)












