NAMA Aulia Rahman Basri mendadak jadi sorotan dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kutai Kartanegara (Kukar) 2024. Bagaimana tidak, dirinya terpilih sebagai calon bupati (cabup) dari PDI Perjuangan, menggantikan sosok petahana Edi Damansyah yang didiskualifikasi Mahkamah Konstitusi (MK).
Sebagai peraih suara terbanyak, tersingkirnya Edi Damansyah dari kontestasi Pilkada memang memunculkan konsekuensi. Pilkada Kukar yang sudah usai digelar pada 27 November 2024 silam terpaksa diulang, melalui proses Pemungutan Suara Ulang (PSU) tanpa Edi Damansyah. Namun Rendi Solihin selaku calon wakil bupati (cawabup) bisa tetap ikut bertarung.
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri lantas mengeluarkan rekomendasi dalam formulir B1KWK yang mengukuhkan Aulia sebagai cabup dan Rendi tetap sebagai wakilnya. Lantas, siapa sosok Aulia Rahman ini?
Aulia Rahman Basri, pria 39 tahun ini dahulunya dikenal sebagai dokter aparatur sipil negara (ASN) yang peduli terhadap masyarakat pelosok Kukar. Dengan kepeduliannya itu, dia mendirikan rumah singgah bagi pasien daerah terpencil seperti Muara Muntai yang kesusahan mengakses layanan kesehatan di RSUD Dayaku Raja.
Langkah berani kemudian diambilnya pada 2020: mundur sebagai meninggalkan status ASN dan terjun ke dunia usaha. Bukan kaleng-kaleng memang, Aulia terpilih sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kukar dua tahun kemudian. Kepercayaan itu menunjukkan kapasitasnya dalam memberdayakan ekonomi lokal.
Pun begitu, Aulia juga terjun ke dunia politik. Partai berlambang kepala banteng, PDI Perjuangan menjadi perahu yang dipilihnya. Jabatan pun diembannya dalam karier politiknya sebagai Wakil Ketua Bidang Politik dan Hukum DPC PDI Perjuangan Kukar.
Menjadi tradisi PDI Perjuangan dalam mengusung kadernya sendiri sebagai calon kepala daerah. Maka, dipilihnya Aulia Rahman menggantikan Edi Damansyah menunjukkan kualitasnya sebagai kader partai.
Bagi Aulia yang bertahun-tahun lebih dekat dengan dunia kesehatan dan bisnis, mendadak mesti mengambil peran kepemimpinan politik yang semula dirancang untuk orang lain. Meski tak percaya mendapat amanah tersebut, namun sebagai kader, dirinya harus siap dengan semua perintah, termasuk menjadi kepala daerah.
“Saya tidak kepikiran maju di kontestasi ini. Tetapi saya lahir di Kota Bangun, besar dengan impian menjadikan Kutai Kartanegara lebih baik,” ucap Aulia.
Kini sebagai penerus Edi Damansyah, Aulia dihadapkan pada tantangan baru bagaimana meyakinkan publik bahwa dia bukan sekadar pelengkap dalam PSU. Tetapi benar seorang pemimpin yang siap bekerja untuk rakyat Kukar.
Sementara itu Rendi Solihin menyatakan siap dengan segala keputusan partai. Sekalipun dirinya tetap sebagai cawabup, bukan sebagai cabup. Padahal sebagai Wakil Bupati (Wabup) Kukar periode 2021–2024 dan dengan pengalaman di DPRD Kukar, Rendi memiliki peluang besar untuk maju sebagai bupati.
“Bagi saya, bukan soal siapa yang menjadi bupati atau wakil bupati. Yang lebih penting adalah menuntaskan janji kampanye 2024 kepada rakyat,” tegasnya.

Senin (10/3/2025), Aulia dan Rendi resmi mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kukar, memastikan kesiapan keduanya menghadapi PSU. Sebagai pasangan kepala daerah, Aulia Rahman Basri dan Rendi Solihin kini bukan hanya harus memenangkan hati 552.469 pemilih di Kukar. Melainkan juga menghadapi tantangan besar menyatukan basis yang terpecah akibat polemik diskualifikasi.
PSU yang bakal digelar 25 April 2025 ini sendiri bukan sekadar pemilihan ulang, tetapi juga ujian bagi soliditas politik Kukar. Dengan sisa waktu menuju hari-H, Aulia-Rendi punya pekerjaan rumah merangkul kembali para pendukung Edi yang sempat goyah, menghadapi kritik, serta membangun kepercayaan baru di tengah dinamika politik yang panas.
Dalam hal ini, Rendi yang sudah akrab dengan kerja pemerintahan menegaskan, program yang telah berjalan harus terus dikawal. “Ini bukan tentang menggantikan sosok lama, melainkan meneruskan perjuangan yang sudah dimulai,” ucapnya.
Visi “Kukar Idaman Terbaik” pun diusung Aulia bersama Rendi, dengan orientasi pada pembangunan berkelanjutan berbasis kesejahteraan rakyat.
Aulia dan Rendi membawa narasi berbeda di tengah politik yang kerap dipenuhi intrik dan perebutan kekuasaan. Aulia yang lebih terbiasa mendengar keluh kesah pengusaha dan pasien, melihat politik sebagai kelanjutan pengabdian, bukan sekadar panggung kekuasaan. Sementara Rendi di usianya yang ke-34 tahun, memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar mengejar jabatan.
Keduanya meyakini, di Kukar, pemimpin yang dibutuhkan bukanlah mereka yang sekadar ingin berkuasa, melainkan mereka yang siap bekerja dan mengabdi. Maka pada 25 April mendatang, apakah Aulia-Rendi mampu mempertahankan keberhasilan yang sudah dicapai Edi-Rendi sebelumnya, kembali menjadi pilihan masyarakat Kukar? (xl)













