JAKARTA — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan otokritik tajam mengenai potret pengelolaan ekonomi nasional dalam beberapa dekade terakhir.
Saat memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (1/6/2026), Presiden menegaskan bahwa kekayaan alam Indonesia yang melimpah belum sepenuhnya dirasakan secara adil oleh masyarakat.
“Marilah kita selalu jujur kepada diri kita sendiri, mengakui kelemahan-kelemahan dan kesulitan yang kita hadapi. Selama beberapa dasawarsa terakhir ekonomi memang tumbuh, tapi apakah pertumbuhan itu sudah merata dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia secara adil?” ujar Presiden Prabowo dalam amanatnya yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Presiden menjabarkan realitas bahwa Indonesia merupakan produsen raksasa untuk berbagai komoditas penting dunia yang dibutuhkan teknologi tinggi.
Mulai dari mineral penting seperti nikel, tembaga, emas, logam tanah jarang, hingga batubara dan kelapa sawit. Namun, ia menyayangkan nilai tambah dari kekayaan tersebut justru lebih banyak mengalir dan dinikmati di luar negeri.
“Terlalu lama kekayaan kita tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Terlalu lama sebagian nilai tambah atas sumber daya kita dinikmati di luar negeri. Terlalu lama rakyat kita hanya menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri,” sesal Kepala Negara di hadapan para tamu undangan.
Sebagai solusi atas ketimpangan tersebut, Presiden Prabowo memastikan bahwa pemerintah akan terus memperkuat hilirisasi komoditas dan menerapkan sistem ekspor satu pintu guna memastikan hasil kekayaan alam memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat banyak. (zu)












