Terus Menyusut, Populasi Pesut Mahakam Kini Tinggal Tersisa 65 Ekor

Terus Menyusut, Populasi Pesut Mahakam Kini Tinggal Tersisa 65 Ekor
Evakuasi yang dilakukan relawan terhadap pesut mati yang bernama Lion di Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun. (Dok. BPSPL Pontianak Wilker Mahulu)

KUTAI KARTANEGARA — Pesut Mahakam jantan bernama “Lion” ditemukan mati di wilayah Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Selasa (5/5/2026). Satwa langka yang telah dipantau sejak 1999 itu diduga berusia lebih dari 30 tahun dan menjadi salah satu individu tua di perairan Sungai Mahakam.

Pimpinan Program Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Danielle Kreb mengatakan, bangkai pesut awalnya ditemukan mengapung di kawasan Kampung Baru, Desa Liang.

“Awalnya dia di sungai, kemudian masuk ke teluk kecil. Mereka meminta bantuan Tim Pokdarwis Pela untuk mencari karena tim itu yang paling dekat,” ujarnya via telepon, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga  Disbun Kaltim Terus Dorong Pembentukan Kelompok Tani Peduli Api

Setelah ditemukan, bangkai pesut kemudian dievakuasi menggunakan rakit milik RASI menuju Desa Sangkuliman untuk dilakukan nekropsi atau pemeriksaan organ tubuh. Proses tersebut melibatkan tim gabungan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta dokter hewan dari Samarinda.

“Sampel-sampel sudah diambil dan dibawa ke laboratorium toksikologi dan kualitas perairan Fakultas Perikanan Universitas Mulawarman,” katanya.

Danielle yang juga dikenal sebagai ibu pesut itu menjelaskan, usia pasti “Lion” tidak diketahui secara detail karena program identifikasi baru dimulai pada 1999. Namun saat pertama kali terpantau, pesut tersebut diperkirakan sudah dalam kondisi dewasa.

Baca Juga  Kalahkan Peringkat Satu Bulu Tangkis Dunia, Jojo Juarai Tunggal Putra Denmark Open 2025

“Jadi kemungkinan umurnya di atas 30 atau 35 tahun, karena pesut bisa hidup sampai sekitar 50 tahun,” tuturnya.

Terkait penyebab kematian, RASI belum dapat memastikan secara pasti. Dari pemeriksaan awal ditemukan luka lebam di bagian leher yang terlihat cukup dalam dan berdarah.

“Meskipun ada luka di bagian leher, belum bisa dipastikan penyebab kematiannya. Harus diverifikasi lagi melalui pemeriksaan histopatologi,” ujar Danielle.

Selain itu, tim laboratorium juga akan melakukan pemeriksaan kemungkinan adanya kandungan logam berat, bahan kimia berbahaya, racun, hingga mikroplastik dalam tubuh pesut tersebut.

“Hasilnya biasanya lebih dari satu bulan karena masih dilakukan penelitian,” tambah Danielle.

Baca Juga  Gelar Perkara Dugaan Asusila Pengelola Ponpes Tenggarong, Kemenag Ancam Cabut Izin Operasional

Kematian “Lion” membuat populasi Pesut Mahakam yang terpantau semakin berkurang. Kini populasi menjadi 65 ekor, sebelumnya yang tercatat pada akhir 2025 sebanyak 66 ekor. (fjr)