KUKAR IDAMAN SEP 26

Diskusi di Unikarta, Natsir Dorong Pemuda Tak Jadi Penonton di Tengah Perubahan Zaman

Ketua Satuan Relawan Indonesia Raya (SATRIA) Kutai Kartanegara Natsir (kiri) usai forum diskusi di Unikarta. (Komparasinews/Habib Fajar)

KUTAI KARTANEGARA — Generasi muda didorong tidak sekadar menjadi penonton di tengah perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja. Mahasiswa diminta lebih produktif, berani mencoba hal baru, serta mampu membaca peluang sebelum kesempatan berlalu.

Pesan tersebut disampaikan pengusaha muda Muhammad Natsir Hidayat dalam diskusi publik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) di Kantin UNIKARTA, Senin (28/9/2026) malam.

Diskusi yang berlangsung di Kantin Unikarta itu mengangkat tema “Saat Zaman Berubah, Pemuda Harus Apa?” Kegiatan digagas BEM Unikarta bersama BEM se-Kalimantan dan Forum Mahasiswa Hulu.

Selain Natsir, diskusi tersebut menghadirkan Anggota DPRD Kukar Akbar Haka. Forum itu membahas posisi generasi muda menghadapi perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, hingga tantangan ekonomi.

Natsir yang juga Ketua Satuan Relawan Indonesia Raya (SATRIA) Kukar mengatakan mahasiswa tidak boleh hanya menunggu peluang datang.

Baca Juga  Akhirnya PPKM di Balikpapan Turun ke Level 2, Masyarakat Diminta Tidak Lengah

Menurutnya, perubahan zaman justru harus menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan dan menciptakan peluang.

Salah satu hal yang ditekankannya adalah pentingnya menghargai waktu. Ia menyebut waktu memiliki batas sehingga setiap kesempatan perlu dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, membangun pengalaman, maupun memulai kegiatan produktif.

“Waktu adalah nyawa,” tegasnya.

Natsir mengingatkan kebiasaan menunda pekerjaan atau rencana dapat menghambat langkah anak muda untuk berkembang.

Karena itu, mahasiswa didorong berani melakukan perubahan dan menghadirkan gagasan baru yang positif.

“Pesan buat teman-teman mahasiswa, jangan bosan-bosan untuk melakukan perubahan, memiliki dobrakan-dobrakan atau sesuatu yang baru, yang sifatnya positif,” katanya.

Jangan Antiperkembangan Teknologi

Natsir juga meminta mahasiswa tidak bersikap antipati terhadap perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan robotika, menurutnya perlu dipahami dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Baca Juga  Kemenag Kukar Didesak Usut Tuntas Dugaan Pelecehan di Ponpes Tenggarong Seberang

“Jangan anti terhadap perubahan khususnya di teknologi, jadi gunakanlah perubahan-perubahan di teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan secara positif,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat generasi muda perlu mempersiapkan diri dengan meningkatkan kapasitas dan keterampilan.

Mahasiswa juga didorong lebih aktif membaca peluang usaha dan tidak menjadikan status sebagai mahasiswa sebagai alasan untuk menunggu hingga lulus sebelum mulai berkarya.

“Harapan saya mudah-mudahan setelah pasca kegiatan ini, teman-teman mau keluar dari zona-zona yang mungkin masih zona nyaman, kemudian melakukan suatu gerakan yang sebelumnya ditunda-tunda,” kata Natsir.

Ia berharap diskusi tersebut tidak berhenti sebagai pertukaran gagasan. Mahasiswa diharapkan dapat membawa hasil pembahasan menjadi langkah nyata, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

“Jadi ada satu tools atau goals yang ingin dicapai oleh teman-teman mahasiswa setelah dalam hal ini jangka pendek maupun jangka panjang,” lanjutnya.

Baca Juga  Sertifikasi ISPO Jadi Harapan Keberlangsungan Industri Kelapa Sawit Kaltim

Menurut Natsir, produktivitas generasi muda tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi. Kapasitas dan kemandirian pemuda juga menjadi bagian penting dalam menentukan perkembangan daerah.

Karena itu, pendidikan dan ruang pengembangan kapasitas dinilai penting agar mahasiswa mampu menghadapi perubahan sekaligus menciptakan nilai bagi lingkungan sekitarnya. (fjr)