SAMARINDA – Kaltim mulai menerapkan inovasi peningkatan produksi padi untuk memperkuat ketahanan pangan daerah melalui metode Padi Tanam Hemat Air Super (PMAAS). Melalui metode PMAAS, produktivitas sawah yang selama ini rata-rata hanya 3,5–4 ton per hektare ditargetkan meningkat menjadi 6–7 ton per hektare.
Dijelaskan Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBPMP) Kaltim Ahmad Subhan, program yang menjadi bagian strategi swasembada pangan nasional ini akan diterapkan secara bertahap pada sekitar 7.000 hektare lahan pertanian di berbagai kabupaten dan kota di Kaltim. Dengan pendampingan intensif dari penyuluh pertanian.
Menurutnya, metode PMAAS telah menunjukkan hasil yang menjanjikan di sejumlah daerah. Bahkan jika diterapkan sesuai standar budidaya, produktivitasnya berpotensi mencapai 10 ton gabah per hektare.
“Harapannya produktivitas padi di Kalimantan Timur bisa meningkat menjadi di atas 6 hingga 7 ton per hektare,” tutur Subhan, Jumat (3/7/2026), dikutip dari siaran RRI.
Kata dia, peningkatan produktivitas merupakan langkah yang lebih realistis dibanding terus membuka lahan sawah baru. Dengan memanfaatkan teknologi dan pola budidaya yang lebih efektif, hasil panen dapat ditingkatkan tanpa harus menambah luas lahan pertanian.
Metode PMAAS menerapkan pola tanam yang lebih rapat sehingga jumlah tanaman per hektare meningkat. Dengan pengelolaan yang tepat, pola ini mampu menghasilkan panen yang lebih tinggi sekaligus lebih efisien dalam penggunaan air.
Langkah ini dinilai semakin penting seiring perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan pangan di Kaltim. Karena itu, peningkatan hasil panen menjadi kunci untuk menjaga pasokan beras daerah tetap aman dan berkelanjutan. (xl)












