Rusia dan China Pasang Badan Bela Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei

Foto : Mojtaba Khamenei, putra kedua Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengunjungi kantor Hizbullah di Teheran, Iran, pada 1 Oktober 2024. (Kantor Pemimpin Tertinggi Iran/WANA/via REUTERS)

JAKARTA – Majelis Pakar Kepemimpinan Republik Islam Iran secara resmi menetapkan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran. Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.

Penetapan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang diterima Senin (9/3/2026). Mojtaba Khamenei disebut memperoleh dukungan lebih dari 85 persen suara anggota Majelis Pakar.

Pemilihan itu merujuk pada Pasal 107 dan 108 Konstitusi Republik Islam Iran, dengan masa jabatan kepemimpinan selama delapan tahun.

Kedutaan Besar Iran menegaskan bahwa proses transisi kepemimpinan berjalan stabil. Tak lama setelah penunjukan tersebut, Iran langsung mengaktifkan sejumlah langkah militer strategis di bawah komando pemimpin baru.

Iran juga mengumumkan peluncuran tahap ke-30 Operasi “Janji Setia 4” (Va’deh Sadegh-4) yang menargetkan wilayah Israel.

“Pagi ini tahap ke-30 Operasi Janji Setia 4 dilaksanakan di bawah komando Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei terhadap wilayah-wilayah zionis Israel,” tulis pernyataan resmi Kedubes Iran.

Baca Juga  Laila Berharap Pasar Murah Rutin Digelar

Ribuan Warga Sipil Tewas

Iran juga memaparkan dampak serangan militer Amerika Serikat dan Israel selama sepuluh hari terakhir.

Menurut pemerintah Iran, lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil tewas dalam serangan tersebut.

Selain itu, sekitar 9.669 target sipil dilaporkan hancur, termasuk 7.943 rumah tinggal, fasilitas kesehatan, sekolah, serta infrastruktur energi.

Iran juga menyoroti serangan terhadap kapal perang Dena di perairan internasional. Kapal tersebut disebut tidak bersenjata dan sedang berlayar menuju India atas undangan resmi Angkatan Laut India.

“Tanpa peringatan, kapal tersebut menjadi sasaran serangan di perairan internasional. Ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” kata Kedutaan Besar Iran.

Iran Tutup Diplomasi dengan AS

Dalam pernyataan yang sama, Iran menegaskan telah menutup pintu negosiasi dengan Amerika Serikat.

Teheran menilai Washington telah melakukan tiga kali pengkhianatan diplomatik, yakni penarikan sepihak dari perjanjian nuklir JCPOA pada 2018, serangan militer pada Juni 2025, serta serangan terbaru pada 28 Februari 2026 yang terjadi setelah putaran kedua perundingan.

Baca Juga  Diskominfo Kukar Komitmen Bantu Penguatan Jaringan Internet Setiap OPD hingga Desa

Iran menyatakan memiliki hak mempertahankan diri sesuai Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Rusia dan China Dukung Iran

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan dukungan kepada pemimpin baru Iran tersebut.

Dalam pesan langsung kepada Mojtaba Khamenei, Putin menegaskan solidaritas Rusia terhadap Teheran.

“Saya ingin menegaskan kembali dukungan teguh kami untuk Teheran dan solidaritas dengan teman-teman Iran kami,” kata Putin.

Ia juga menegaskan Rusia akan tetap menjadi mitra strategis bagi Iran.

“Rusia telah dan akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Iran,” lanjut Putin.

Dukungan serupa juga datang dari Pemerintah China. Beijing menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba Khamenei merupakan urusan internal Iran yang sah secara hukum.

Baca Juga  Samri Ingatkan Pembangunan RTH Samarinda Harus di Lahan Milik Pemkot

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyatakan negaranya menentang segala bentuk campur tangan asing terhadap Iran.

“Keputusan Iran untuk menunjuk Khamenei muda didasarkan pada konstitusinya,” kata Jiakun kepada media di Beijing.

China juga memperingatkan agar kedaulatan Iran dihormati di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

“China menentang campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain dengan dalih apa pun. Kedaulatan, keamanan, serta integritas wilayah Iran harus dihormati,” tegasnya. (*/zu)