KUTAI KARTANEGARA – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim mengajak masyarakat berpikir positif dan menggunakan teknologi internet secara bermanfaat. Ajakan ini disampaikan Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal saat menjadi narasumber pada gelar wicara Tangkal Hoaks dengan Literasi Digital, di Hotel Grand Fatma Tenggarong, Jumat (26/5/2023) siang.
Diterangkan, transformasi digital saat ini memudahkan siapa saja menggunakan setiap platform digital untuk berbagi ide dan kreativitas. Namun di sisi lain, tak sedikit yang menyalahgunakan kemajuan teknologi untuk tujuan tertentu yang berlawanan dan mengarah ke hal negatif termasuk penyebaran hoaks atau berita bohong.
Menurut Faisal, tantangan dalam transformasi digital yaitu masyarakat bisa terhanyut dalam arus perubahan. Makin canggihnya era digital, kadang bisa lupa dan terbawa arus yang merugikan diri sendiri, keluarga dan banyak orang.
Disampaikan, berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), data terakhir untuk tahun 2022, yang menggunakan akses internet di Indonesia sebanyak 78,19 persen atau 215 juta dari total populasi 275 juta penduduk Indonesia.
Di samping itu, pengguna internet di Indonesia sebesar 63.47 persen adalah pengguna aktif 1 hingga 5 jam. Kemudian 6-10 jam sebanyak 22,44 persen lebih dari 10 jam yakni 7,14 persen dan kurang dari 1 jam sebanyak 6,68 persen.
“Bisa kita bayangkan masyarakat Indonesia sangat aktif sebagai pengguna internet. Tetapi di balik itu ada juga 20 persennya masih suka buka hal-hal pornografi dan 5 persen untuk judi online. Hati-hati dengan digital,” papar Faisal.
“Tetapi digital lebih banyak manfaat daripada mudharatnya dan itu kita akui, mari terus berpikir positif,” tambahnya.
Kata Faisal, saat ini Kaltim dalam proses precepatan transformasi digital lantaran keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pembangunan base transceiver station (BTS) dan tower serta akses telekomunikasi dipercepat. Sehingga makin cepat dan mudah akses internet. Hal ini bakal sia-sia bila tidak diimbangi dengan ilmu literasi digital.
“Kita hanya akan tahu tentang kecepatannya saja. Akibatnya banyak hoaks menjamur, banyak yang iri dengki sebar di medsos, karena dia tau yang baca di medsos ini banyak,” sebutnya.
“Dengan banyak kepentingan itu tersebar hoaks yang cepat. Itu pentingnya kita punya ilmu literasi digital khususnya untuk menangkal hoaks,” sambung Faisal. (xl/advdiskominfokaltim)












