DI SMP Negeri 1 Tenggarong, bel istirahat kini punya pesaing baru, yakni bunyi ompreng atau kotak makan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Setiap hari, tepat pukul 12.00 WITA, 947 siswa keluar kelas dengan satu tujuan. Mengantre kotak makan bersusun yang konon niat mulia Pemerintah Pusat sebagai bantuan program gizi.
Di tengah kerumunan itu, ada satu sosok yang diam-diam menjalani “pekerjaan kedua” dalam profesinya. Namanya Luthfi Ananda, seorang guru honorer. Sejak MBG hadir, job desc-nya diam-diam bertambah. Dari yang awalnya cukup mengajar, kini juga ikut menghidangkan.
“Ya, Alhamdulillah, dapatnya MBG ini sangat baik untuk anak-anak yang pertama,” kata Luthfi.
Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada pelan, “Terus untuk para guru ya, paling plus minusnya adalah tersitanya waktu jam belajar,” ucapnya.
Kata Luthfi, ada siswa yang diam-diam menghitung waktu di kelas. Menunggu kapan MBG akan datang. Namun sebaliknya, ada siswa yang seperti melihat hantu di siang bolong, tampak ketakutan melihat MBG.
“Jam 9 saja sudah sering tanya, ‘Pak, MBG ini kapan datang?’ Mau lihat hari ini menunya apa,” cerita Luthfi sambil tersenyum tipis.
Tetapi seperti semua hal dalam hidup, termasuk program pemerintah, tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bagi beberapa siswa, MBG pernah jadi mimpi buruk. Mulai dari makanan yang hampir basi, tidak menyukai lauknya, sampai menemukan ulat saat hendak menyantapnya.
“Ada beberapa yang dapat zonk-nya. Kayak masih ada sedikit kesalahan, mungkin agak basi. Bahkan tadi itu ada potongan ulat,” ungkapnya.
Setiap tengah hari, tiba-tiba muncul atsmosfer bak laga sepak bola panas. Disitulah muncul dua kubu tak resmi. Siswa yang setia menunggu MBG dan siswa yang memilih memakan bekalnya sendiri.
“Beberapa anak antusias, tetapi ada juga yang sudah enggak mau makan MBG karena trauma,” lanjut Guru Informatika itu.
Meski ada yang menolak, beberapa siswa memilih “bermain” aman dari pertanyaan guru. Mereka tetap mengambil buah meski tak memakan nasi dan lauk.
“Kalau buahnya segar, mereka ambil. Tetapi lauknya sering nggak dimakan,” katanya.
Di sisi lain, suara protes siswa sering dikumandangkan pada program besutan Prabowo-Gibran ini. Luthfi mengatakan, siswa kerap mengeluhkan lauk yang itu-itu aja.
“Sering banget (siswa) yang bosan ketemu daging. ‘Bisa nggak sih jangan daging terus?’ atau ‘ikannya itu-itu aja’,” ujar Luthfi menirukan suara muridnya.
Sekolah bahkan sempat mencoba menyampaikan aspirasi itu. Hasilnya, tak terlalu banyak perubahan. Meski, satu permintaan pernah dikabulkan, yakni nasi kuning.
Namun di balik segala dinamika itu, Luthfi punya pandangan yang mungkin tidak semua orang berani ucapkan terang-terangan. Bahwa program ini, setidaknya di sekolahnya, belum sepenuhnya tepat sasaran.
“Kalau di sini sih rata-rata anak-anaknya menengah ke atas. Mereka bawa bekal sendiri dari rumah, bahkan sudah punya uang saku juga,” jelasnya.
Artinya, MBG hadir di tempat yang sebenarnya tidak terlalu “mendesak”. Sementara di luar sana, mungkin ada yang lebih membutuhkan.
Sementara itu di sisi guru, ada “bonus” yang ikut datang bersama program ini. Insentif dari dapur SPPG, sekira Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per sepuluh hari. Tetapi tentu saja, itu bukan angka bersih.
“Dibagi per kelompok, misalnya ada 8 orang yang bertugas,” kata Luthfi.
Kalau dihitung-hitung, tidak sampai membuat hidup berubah drastis. Tetapi cukup jadi tambahan napas, terutama bagi guru honorer yang sudah terbiasa hidup dengan penghasilan pas-pasan.
Luthfi sendiri sudah sekira enam tahun mengajar, berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, sebelum akhirnya kini menetap di SMP Negeri 1 Tenggarong. Kurang lebih satu tahun terakhir, dia juga menjalani peran tambahan sebagai “petugas makan siang”.
Kini, program MBG bukan sekadar memperbaiki gizi anak bangsa. Namun pelan-pelan membuat pekerjaan tambahan bagi profesi guru.
Karenanya, Luthfi meletakkan harapan pada program yang masih akan terus berjalan hingga 3,5 tahun masa jabatan Prabowo-Gibran.
“Semoga MBG ini menemukan solusi terbaiknya, dan mendengarkan apa-apa saja yang dikeluhkan anak-anak (siswa, Red.) di setiap sekolah,” tuturnya. (fjr)












