Dibongkar karena Dugaan Pungli, Jembatan Darurat di Desa Tuana Tuha Kembali Diperbaiki

Pengerjaan jembatan darurat di Dusun Pemandaran, Desa Tuana Tuha. (Foto: Kades Tuana Tuha)

KUTAI KARTANEGARA – Jembatan darurat yang dibangun warga Dusun Pendamaran, Desa Tuana Tuha, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali diperbaiki. Setelah sebelumnya dibongkar lantaran viral di sosial media adanya dugaan pungutan liar (pungli) di jembatan.

Di dalam video yang beredar, ada warga yang mematok biaya tarif Rp 20 ribu kepada petugas Basarnas yang ingin melintas jembatan. Yang ingin menolong orang tenggelam di kawasan tersebut pada Jumat (4/2/2022) lalu.

Kesal karena diduga melakukan pungli, keesokan harinya warga setempat membongkar jembatan darurat itu sehingga kegiatan lalu lintas kendaraan kembali terhambat.

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Tuana Tuha Tommy mengatakan jembatan tersebut akhirnya kembali diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat bersama pemerintah desa dan diinisiasi oleh asosiasi sopir Belayan di tiga kecamatan. Yakni Kenohan, Kembang Janggut, dan Tabang. Kemudian ada iuran dari masyarakat, juga dari pengusaha-pengusaha atau agen untuk melakukan iuran pendanaan sewa alat berat eksavator mini pada Ahad (6/2/2022).

Baca Juga  Bikin Akses Lancar, Pembangunan Jembatan Sebulu Dapat Dukungan Masyarakat

“Sudah tiga hari, jadi hari ini terakhir pengerjaan. Itu kami kasih kayu dahulu bawahnya, baru kami timbun meggunakan tanah,” ungkapnya.

“Ini murni kami lakukan swadaya bersama masyarakat, bersama Pemerintah Desa. Kami mengawasi dan sama-sama gotong-royong. Kalau dari Pemkab Kukar tidak ada, hanya pihak kecamatan dan Muspika yang hadir,” sambungnya.

Tommy menjelaskan, setelah jembatan diputus terkait viral soal dugaan pungli, pihaknya langsung bergerak menindaklanjuti jembatan darurat tersebut. Karena jembatan itu salah satu akses ekonomi daerah hulu Kukar.

Baca Juga  Santai Hadapi Wacana Pilkada Melalui DPRD, PDI Perjuangan Kukar Bilang Begini

“Cuma ini saja akses jalan yang bisa dilalui selain akses sungai. Untuk tabung gas sudah Rp 50 ribu per 3 kg dari akibat pemutusan jembatan. Belum lagi dari bahan pokok yang lain dan juga angkutan sawit mengalami hal serupa yaitu terhambat. Distribusi sembako juga terhambat dampak dari pemutusan jembatan ini,” tegasnya.

Sebelum dibongkar paksa, panjang jembatan yang dibangun warga tersebut yakni sekira 20 meter. Namun kini telah dilakukan penimbunan kayu dan tanah. Sehingga untuk sementara bisa dilewati kendaraan roda empat ke atas.

Tommy menerangkan, untuk infrastruktur jalan yang mengalami kerusakan sekitar 15 Kilometer. Namun jalan yang putus sekitar 10-20 kilometer. “Tetapi kalau hancur parah itu sepanjang 15 kilo,” jelasnya.

Dirinya berharap jalan dan jembatan rusak tersebut secepatnya diperbaiki. Dengan langsung melakukan aksi di lapangan, jangan menunggu viral dahulu baru diperbaiki.

Baca Juga  Dispora Kukar Kembangkan Aplikasi Satu Data Olahraga dan Kepemudaan

“Jangan sampai masyarakat teriak-teriak baru Pemkab bergerak, jangan sampai terjadi hal seperti itu. Ini kan jembatan bersifat hanya sementara, paling tidak ini hanya bertahan selama satu bulan untuk ketahanannya,” tutup Tommy. (zu)