KUTAI KARTANEGARA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kutai Kartanegara (Kukar), kini diperkuat dari udara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mulai mengerahkan water bombing untuk membantu memadamkan titik api yang sulit dijangkau petugas dari darat.
Pengerahan helikopter pemadam ini dilakukan setelah karhutla di Kukar terus terjadi. Data BPBD Kukar mencatat hingga kini terdapat 216 kejadian dengan total lahan terdampak mencapai 1.704 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kukar, Setiano Nugroho Aji, mengatakan pengerahan water bombing merupakan hasil koordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Operasi pemadaman dari udara mulai dilakukan Kamis (10/9/2026). Dalam sehari, water bombing dijalankan dalam dua sortie atau dua kali misi, yakni pagi dan siang.
“Alhamdulillah hari ini sudah dimulai untuk wilayah di Kukar, satu hari dalam dua sortie, pagi dan siang,” kata Setiano saat dihubungi, Kamis (10/9/2026).
Water bombing digunakan sebagai dukungan bagi tim pemadam di darat. Helikopter akan menyasar titik api yang sulit dijangkau secara manual maupun lokasi yang masih membutuhkan pemadaman lanjutan.
Ada lima kecamatan yang direncanakan menjadi sasaran operasi water bombing. Kelima wilayah tersebut yakni Muara Badak, Anggana, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja.
“Rencananya di lima kecamatan itu Muara Badak, Anggana, Sangasanga, Muara Jawa dan Samboja,” ujar Setiano.
Untuk tahap awal, operasi pemadaman dari udara telah dilakukan di kawasan Saliki dan Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak. Namun, water bombing tidak serta-merta bisa dilakukan di sembarang titik. Tim di lapangan harus memastikan jatuhan air dari helikopter mengenai area yang menjadi sasaran.
Kondisi angin menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan. Pergeseran arah angin dapat membuat air yang dijatuhkan dari udara bergeser dari titik api. Karena itu, BPBD Kukar meminta pejabat kecamatan, tim mitigasi dan relawan di sekitar lokasi ikut memantau serta memberikan laporan kepada tim.
Laporan dari lapangan diperlukan untuk memastikan jatuhan air sudah tepat sasaran atau titik tersebut masih membutuhkan penyiraman ulang. Setiano mengatakan penentuan titik berikutnya akan mengikuti hasil evaluasi tim water bombing.
“Kita mengikuti hasil evaluasi dari tim water bombing, tapi yang jelas targetnya ada di lima kecamatan,” katanya.
Meski pemadaman dari udara telah dimulai, BPBD Kukar masih menemukan sejumlah titik api di beberapa wilayah. Selain kondisi lahan dan cuaca, BPBD juga menyoroti aktivitas masyarakat yang masih membuka lahan dengan cara membakar. Kebiasaan tersebut disebut masih ditemukan di sejumlah wilayah, terutama kawasan hulu.
“Masih ada, spot-spot masih ada, karena ini juga berkaitan perilaku budaya masyarakat setempat, terutama yang ada di wilayah hulu, masih ada masyarakat yang membakar ladang,” tutur Setiano.
BPBD Kukar pun meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Edukasi juga terus dilakukan untuk menekan munculnya titik api baru saat kondisi kering. (fjr)












