SAMARINDA – Puluhan komoditas di Samarinda disebut rentan memicu terjadinya inflasi. Hal ini terungkap dalam rapat pengendalian teknis dalam rangka merumuskan pengendaliannya, Senin (27/2/2023).
Wakil Wali Kota (Wawali) Samarinda Rusmadi yang memimpin rapat menuturkan, perlu rumusan aksi untuk penguatan sistem intervensi bahan pokok. Terutama pada 23 komoditas yang rentan memicu angka inflasi.
“Karena arahan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sudah jelas. Tugas kita di daerah untuk mengendalikan dan menstabilkan harga kebutuhan bahan pokok yang saat sekarang menjadi pemicu inflasi. Seperti beras, cabai merah, minyak goreng, dan bawang merah,” ungkapnya.
Lebih lanjut disampaikan, upaya yang dilakukan yaitu dengan berpedoman pada 4K yang perlu diperhatikan. Pertama, ketersediaan pasokan pangan. Kata Rusmadi, pemerintah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait mesti bisa memastikan pasokan bahan pangan terjamin aman ketersediaannya. Melalui kerja sama bisnis to bisnis dengan daerah penghasil.
Kemudian yang kedua, keterjangkauan harga, yaitu dengan subsidi ongkos angkut terhadap barang-barang yang rentan bergejolak harga karena permintaan yang tinggi. Di samping giat dan teratur melakukan operasi pasar.
“Ketiga, kelancaran distribusi. Di sini Dinas Perhubungan harus bisa memastikan transportasi pengantar barang kebutuhan pokok yang masuk ke Samarinda aman termasuk perkembangan cuacanya,” sebut Rusmadi.
“Dan terakhir, komunikasi yang efektif, Dinas Perdagangan harus rajin memperbarui terhadap perkembangan harga kebutuhan pangan dan pokok di pasaran,” sambungnya.
Masing-masing OPD di lingkungan Pemkot Samarinda, urai Rusmadi, diharapkan bisa menyampaikan program aksi yang tak hanya dibiayai oleh APBD saja. Tetapi juga kerja sama dengan distributor. (xl)










