Ada yang Muntah Darah, Korban Pencabulan di Ponpes Tenggarong Seberang Bertambah

Ilustrasi.

KUTAI KARTANEGARA – Dugaan kasus pencabulan yang melibatkan pimpinan sebuah pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyisakan trauma mendalam bagi para korban. Tak hanya mengalami kekerasan seksual, sejumlah korban disebut harus menyaksikan teman-temannya mengalami perlakuan serupa sebelum akhirnya menjadi korban berikutnya.

Fakta tersebut diungkap Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim Rina Zainun, saat aksi di depan Kantor DPRD Kukar, Senin (15/6/2026).

Menurut Rina, pola dugaan kekerasan seksual yang terjadi membuat para korban hidup dalam ketakutan. Setiap kali melihat temannya menjadi korban, mereka merasa giliran berikutnya akan menimpa diri mereka.

Baca Juga  Satlantas Polres Kukar Tindak Tegas Belasan Pelaku Balap Liar, Ini yang Dilakukan

“Trauma mereka sangat mendalam. Ketika melihat satu temannya menjadi korban, kemudian berganti ke korban lain, mereka merasa suatu saat akan mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Rina menjelaskan, salah satu korban saat ini masih menjalani pendampingan psikologis dan rutin berobat ke psikiater karena mengalami gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Bahkan, kata dia, korban masih menunjukkan tanda-tanda trauma saat memberikan keterangan.

“Setiap berbicara dengan kami, tangannya selalu gemetar. Kondisi psikologisnya belum pulih karena mengalami dan menyaksikan langsung peristiwa yang diduga terjadi,” tuturnya.

TRC PPA juga mengungkap adanya korban yang mengalami dampak fisik akibat tekanan psikologis berat. Salah seorang korban disebut sempat muntah darah setelah mengalami peristiwa tersebut.

Baca Juga  Polri Tetapkan 72 Tersangka Kasus Karhutla, Motifnya Pembukaan Lahan Kelapa Sawit

Usai kejadian, korban memutuskan keluar dari ponpes dan meminta pulang ke rumah. Namun saat itu korban belum berani menceritakan apa yang dialaminya kepada keluarga.

“Korban langsung meminta keluar dari pondok. Setelah itu baru terlihat dampak trauma yang sangat berat hingga sekarang,” kata Rina.

Di sisi lain, TRC PPA Kaltim menyebut jumlah korban yang terdata kembali bertambah. Jika sebelumnya terdapat 11 korban, dalam beberapa hari terakhir muncul satu korban baru yang memberikan keterangan kepada pendamping.

“Dari sebelumnya 11 korban, sekarang bertambah satu orang sehingga total menjadi 12 korban,” katanya.

Baca Juga  Belasan Kilogram Sabu-Sabu Asal Banjarmasin Gagal Edar di Samarinda

TRC PPA mendesak aparat penegak hukum segera menuntaskan proses penyelidikan agar para korban memperoleh kepastian hukum dan perlindungan yang dibutuhkan. (fjr)