BONTANG – Kasus stunting di Kota Taman mengalami kenaikan. Sebagaimana diungkapkan Wakil Wali Kota (Wawali) Bontang Najirah dalam kegiatan konvergensi stunting di Pendopo Rujab.
Najirah berharap kegiatan yang dilakukan ini bukan sekadar seremonial. Melainkan bisa secara tepat dilaksanakan. Apalagi kasus stunting di Kota Bontang sendiri saat ini naik dari 19,6% menjadi 23%.
Menurutnya, kenaikan ini mesti memacu Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang untuk mengevaluasi segala upaya yang dilakukan. Serta meningkatkan upaya jemput bola di berbagai daerah rawan stunting.
“Saya imbau agar seluruh OPD (organisasi perangkat daerah, Red.) dan stakeholder dapat bekerja sama. Ketepatan dan keakuratan data juga diperlukan dan semoga delapan aksi konvergensi dapat dilakukan dengan baik,” tutur Najirah.
“Salah satunya dengan pembentukan kader pembangunan manusia serta komunikasi perubahan perilaku dan pendampingan keluarga,” sambungnya.
Kata Najirah, gotong-royong dalam menyelesaikan masalah stunting sangat diperlukan. Pasalnya kurang efektif bila hanya dilakukan Pemkot.
Dalam hal ini dia berharap petugas puskesmas dapat sigap jemput bola untuk menimbang dan memeriksa anak di setiap masing-masing daerah tupoksinya. Mengingat banyaknya masyarakat yang masih menganggap remeh pentingnya menimbang anak setiap bulannya.
“Semoga kita bisa menurunkan angka stunting sesuai dengan target nasional bahkan lebih bagus lagi jika bisa dibawah target nasional,” harapnya.
Sementara itu Sekda Bontang Aji Erlynawati menyampaikan pada 2024 target di tingkat nasional penurunan stunting setiap daerah adalah 14%.
“Hal ini tentunya menjadi PR kita bersama agar kasus stunting di Bontang semakin menurun,” tegas perempuan yang karib disapa Iin ini. (xl)












