KUTAI KARTANEGARA – Kegiatan budaya bertajuk Pasar Petang kembali digelar di kawasan wisata budaya Ladaya, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Sabtu (24/5/2025). Gelaran ini diinisiasi Lanjong Foundation bersama Ruang Sastra Kaltim sebagai bentuk penguatan literasi berbasis budaya lokal.
Berbeda dengan event pada umumnya, tiket masuk Pasar Petang tidak menggunakan transaksi uang. Sebagai gantinya, pengunjung diminta menukar kata-kata untuk menikmati berbagai aktivitas yang ditawarkan. Mulai dari membaca buku, menikmati pertunjukan sastra, musik hingga berdiskusi dengan para sastrawan.
“Ini bukan sekadar event. Ini adalah cara kami membangun kembali hubungan manusia dengan bahasa yang selama ini makin tergerus oleh rutinitas digital,” ungkap Ketua Lanjong Foundation Ahmad Qoshashih.
Salah satu bagian menarik dari kegiatan ini adalah kehadiran Lapak Baca Buku yang digelar oleh Suarastra dan Pixelarasi. Puluhan buku disajikan secara gratis kepada pengunjung yang ingin membacanya di kegiatan tersebut.
Diketahui, Komunitas Pixelarasi baru didirikan pada 2 Mei 2025 bertepatan Hari Pendidikan Nasional, hadir dengan semangat menghidupkan kembali budaya membaca di ruang publik serta meningkatkan literasi masyarakat.
“Kami berterima kasih bisa turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Kami ingin mendekatkan buku ke kehidupan sehari-hari dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan semua orang, bukan kalangan tertentu,” ujar pendiri Pixelarasi, Alfiah Nur Azmi.
Selain lapak buku, acara juga diisi dengan beragam pertunjukan, seperti penampilan penyanyi dan band lokal, musikalisasi puisi, monolog hingga pementasan teater berbahasa Kutai yang dibawakan oleh Terminal Olah Seni (TOS).
Sesi diskusi sastra juga menjadi daya tarik tersendiri. Tiga narasumber hadir untuk berbagi pengalaman, yakni Dahri Dahlan (sastrawan dan dosen Universitas Mulawarman), Kristal Firdaus (sastrawan), dan Fitriani Um Salva (sastrawan yang khas lewat syair religiusnya).
Dengan mengangkat tema Setelah Korrie, acara ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap sastrawan besar Kaltim, Korrie Layun Rampan.
“Korrie tidak hanya meninggalkan karya, tetapi juga semangat literasi yang kami teruskan hari ini,” kata Suhairi Ahmad dari Ruang Sastra Kaltim.
Pasar Petang menjadi ruang alternatif yang mempertemukan masyarakat dengan sastra, budaya, dan refleksi diri di tengah derasnya arus digital. Suasana penuh kehangatan dan kedekatan menjadi bukti bahwa bahasa dan budaya masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Dengan suasana senja yang syahdu dan interaksi yang hangat, agenda ini berhasil menghadirkan perayaan literasi yang membumi dan menyentuh, menjadikan kata-kata sebagai jembatan pemahaman antarmanusia. (fjr)
Kegiatan Budaya Pasar Petang, Tempat di Mana Kata-Kata Jadi Tiket Masuk












