Laporan Intelejen AS Ungkap Kekuasaan Iran Belum Goyah Meski Terus Diserang

Foto : Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Yougov)

JAKARTA – Laporan intelijen Amerika Serikat menyebut kepemimpinan Iran masih tetap bertahan meskipun negara itu hampir dua pekan terakhir menjadi sasaran serangan militer Amerika Serikat dan Israel.

Informasi tersebut diungkap sejumlah sumber yang mengetahui isi laporan tersebut. Mereka menyebut struktur pemerintahan Iran hingga kini masih mampu mengendalikan situasi dalam negeri.

“Analisis kami menunjukkan rezim tersebut tidak berada dalam bahaya untuk kolaps dan masih mengendalikan publik Iran,” kata salah satu sumber yang mengetahui laporan intelijen tersebut dilansir kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Kamis (12/3).

Laporan itu disebut baru dirampungkan dalam beberapa hari terakhir. Temuan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan politik di Amerika Serikat akibat melonjaknya harga minyak setelah konflik di Timur Tengah memanas.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi sinyal operasi militer besar yang dilancarkan AS bersama Israel kemungkinan akan segera diakhiri. Operasi ini menjadi aksi militer terbesar Amerika Serikat sejak invasi Irak pada 2003.

Baca Juga  Ketua Sementara DPRD Kukar Harap KTNA Samboja dan Samboja Barat Jalankan Program Inovatif

Meski begitu, sejumlah pihak menilai mencari jalan keluar dari konflik tersebut tidak akan mudah, terutama jika kelompok garis keras di Iran tetap bertahan dengan sikap mereka.

Laporan intelijen juga menegaskan bahwa struktur kepemimpinan ulama di Iran masih relatif kuat, meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama serangan AS dan Israel, 28 Februari lalu.

Seorang pejabat senior Israel bahkan mengakui secara tertutup bahwa perang yang berlangsung belum tentu akan menjatuhkan pemerintahan ulama di Iran.

“Tidak ada kepastian bahwa perang ini akan menyebabkan runtuhnya pemerintahan Iran,” ujar pejabat tersebut.

Meski demikian, situasi di dalam Iran disebut masih sangat dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan di lapangan.

Baca Juga  Ketua DPRD Kukar Turut Meriahkan Oltrad Begasing di Erau Pelas Benua

Sejak operasi militer dimulai, AS dan Israel diketahui telah menyerang berbagai target strategis Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas nuklir, serta sejumlah tokoh militer dan pejabat tinggi.

Selain Khamenei, serangan tersebut dilaporkan menewaskan puluhan pejabat senior serta sejumlah komandan penting di Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Namun laporan intelijen menunjukkan IRGC bersama pejabat sementara yang mengambil alih pemerintahan masih mampu mempertahankan kendali negara.

Awal pekan ini, lembaga ulama senior Iran, Assembly of Experts, menunjuk putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Di sisi lain, sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menyebut Israel tidak ingin sisa pemerintahan Iran tetap bertahan. Namun belum jelas bagaimana operasi militer yang sedang berlangsung dapat benar-benar menggulingkan pemerintahan di Teheran.

Baca Juga  Angkasa Jaya Minta Pemkot Samarinda Respons Cepat jika Ada Jalan Rusak

Sejumlah analis menilai perubahan kekuasaan kemungkinan baru bisa terjadi jika ada operasi darat yang memungkinkan masyarakat Iran turun ke jalan melakukan protes.

Hingga kini, pemerintahan Trump juga belum menutup kemungkinan untuk mengirim pasukan darat Amerika Serikat ke Iran. (Zu)