Pimpinan Ponpes Akui Pelaku Pencabulan Adalah Putranya, Klaim Siap Ikuti Proses Hukum

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

KUTAI KARTANEGARA – Pernyataan mengejutkan datang dari Pimpinan Pondok Pesantren Ibadurrohman, Elwansyah Elham usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPRD Kukar terkait permasalahan pencabulan yang terjadi di tempat tersebut, Selasa (26/8/2025).

Sebelumnya telah terjadi pencabulan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh oknum yang berasal dari Ponpes Ibadurrohman. Hingga kasus ini mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.

Elwansyah mengakui bahwa pelaku pencabulan yang terjadi area pendidikannya adalah anak kandungnya sendiri. Namun dia menegaskan tak pandang bulu meskipun pelaku ialah keluarganya, proses hukum dipastikan tetap berjalan.

Baca Juga  Puluhan Perusahaan Tambang di Kaltim Dapat Lampu Hijau Ekspor Batu Bara

“Dia anak didik, dia juga anak saya, anak kandung. Sehingga kita mengambilnya lebih tegas lagi untuk menjadi contoh sama yang lain, bahwa di Ibadurrohman itu tidak ada hukum yang disebut dengan tebang pilih,” ungkapnya saat diwawancarai Komparasinews.

Ada dugaan bahwa pencabulan serupa pernah terjadi di Ponpes Ibadurrohman pada tahun 2021, Elwansyah membenarkan hal tersebut. Namun saat itu pelaku tak mengakui perbuatannya.

“Kita sudah sampaikan bahwa kita sudah ambil tindakan, tetapi karena dia tidak mengaku, nah itu jadi kita sulit mengambil langkah-langkahnya,” jelasnya.

Baca Juga  Tingkatkan Pendapatan Asli Daerah, Ini Strategi Bapenda Bontang

Saat itu, pihaknya sudah mengambil langkah dengan memanggil pelaku hingga membuatkan uji asesmen, tetapi pelaku tetap tak mau mengakui perbuatannya. Hal itu yang membuatnya kesulitan mengungkap kebenaran, sampai kasus serupa kembali terulang di tahun 2025.

Terkait wacana pembekuan hingga penutupan yayasan pendidikannya, orang nomor satu di Ponpes tersebut siap mengikuti mekanisme yang ada serta pihaknya akan kooperatif.

“Untuk sementara ini kita akan mengikuti mekanisme. Dinamikanya kita ikuti karena kita tadi sudah bersifat kooperatif, jadi kita menunggu wait and see dan juga kita mengikuti semua langkah-langkah yang sudah dilalui,” pungkasnya. (fjr)