JAKARTA – Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelar aksi damai, Senin (20/1/2024). Bertempat di depan kantor Kemdiktisaintek, aksi ini dipicu pemberhentian mendadak salah seorang pegawai Kemdiktisaintek bernama Neni Herlina beberapa waktu yang lalu.
“Mungkin ada kesalahpahaman di dalam pelaksanaan tugas dan itu menjadi fitnah atau suuzon bahwa Ibu Neni menerima sesuatu, padahal dia tidak melakukannya,” ungkap Ketua Paguyuban Pegawai Dikti Suwitno, dikutip dari Kantor Berita Antara.
Lebih lanjut disampaikan, perlakuan yang diklaim tidak adil juga sebelumnya dibebankan kepada pegawai lain yang enggan disebutkan namanya. Kegiatan yang diikuti sekira 235 pegawai itu ditujukan untuk menyampaikan kepada khalayak, terutama Presiden RI Prabowo Subianto terkait apa yang terjadi.
“Kami lebih kepada menyampaikan saja, terutama adalah kepada pejabat atau kepada Bapak Presiden yang sebenarnya mengangkat dan menunjuk beliau (Satryo Soemantri Brodjonegoro) sebagai Menteri,” beber Suwitno.
ASN Kemdiktisaintek yang diberhentikan yaitu Neni Herlina mengakui dirinya hanya diberhentikan secara verbal. Tak ada surat apapun perihal pemberhentian tersebut yang diterimanya..
“Saya disuruh ke Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Red.) pokoknya begitu,” sebutnya.
Melalui aksi ini, Neni bersama sekira 235 pegawai Kemdiktisaintek lainnya berharap kejadian serupa tidak terulang kembali pada waktu mendatang.
Sementara itu Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdiktisaintek RI Togar M Simatupang menyatakan, pemberhentian ASN di lingkungan Kemdiktisaintek tak dilakukan secara mendadak.
“Tidak sejauh itu, dalam penataan ada tingkat layanan dan mutu yang harus dijamin oleh bagian atau individu. Ada perbedaan dan tentu aplikasi penghargaan dan pembinaan,” jelasnya.
Togar juga menyebutkan pihaknya membuka diri untuk melakukan berbagai upaya persuasif, seperti dialog.
“Sebenarnya masih tersedia ruang dialog yang lebih baik dan ini tetap dengan tangan yang terbuka, pemikiran yang terbuka, dan pencapaian resolusi yang terbaik,” lanjutnya.
Togar juga menyebutkan proses pemberhentian ini juga tidak hanya berhenti pada opsi pemberhentian, namun juga opsi lainnya.
“Sedang proses, dan tentu terbuka untuk opsi lain, bukan hitam putih. Tidak baik terlalu reaktif dan tidak ada dialog,” tegas Togar. (xl)












