KUTAI KARTANEGARA – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kaltim Brigjen Pol Wisnu Andayana didampingi Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim Salehuddin mengunjungi Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada Rabu (26/11/2021). Kunjungan ini berkaitan melimpahnya tanaman kratom yang dibudidayakan warga lokal sebagai mata pencaharian dan juga dimanfaatkan sebagai bahan alami obat-obatan herbal.
Namun pada tahun 2022 ini BNN telah mengategorikan kandungan di dalam daun kratom sebagai narkotika golongan I. Dari berbagai literatur kesehatan, efek sampingnya mengakibatkan gejala adiksi, depresi pernapasan, bahkan kematian.
“Aturannya sudah berlaku, tetapi dalam pelaksanaannya tentu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat sebagai pembudidaya,” kata Wisnu.
Meski begitu, dia tetap mengupayakan adanya alternatif penghasilan warga selain memanfaatkan komoditas tersebut. “Pelan-pelan kami lakukan. Jadi kami berikan pembinaaan keterampilan. Jadi tidak bisa langsung dihilangkan begitu saja,” imbuhnya.
Sementara itu, Salehuddin menambahkan, edukasi kepada warga sangat penting untuk menghindari penyalahgunaan. Meski diakui nilai ekonomisnya sangat tinggi.
“Tanaman ini sangat primadona sekali kalau dijual, apalagi bisa sebagai penahan abrasi. Tetapi ini tugas kita untuk terus mengedukasi bahwa kratom sudah masuk narkotika,” tegas politisi Golkar ini.
Diketahui, dari 21 desa yang ada di Kecamatan Kota Bangun, ada 10 desa yang memiliki tanaman kratom. Salah satunya Desa Liang. Kepala Desa Liang Rodiani menjelaskan biasanya tanaman ini dijual seharga Rp 2.500 per kilogram untuk yang kering. Sedangkan kratom basah mencapai Rp 16 ribu. Konsumen pembeli biasa diperoleh antarwarga, Kalimantan Barat, bahkan sampai ekspor ke luar negeri.
Hasil produksi dari Desa Liang ini bisa mencapai 100 ton per bulan. Dengan masa tanam hingga panen selama tujuh bulan, ketika masa petik bisa tiga bulan sekali.
“Kami sangat berharap kepada pemerintah untuk memanfaatkan kratom ini untuk masyarakat. Karena kalau dihanguskan juga enggak bisa, soalnya tanaman endemik yang tumbuh sendiri,” pungkas Rodiani. (zu)












