KUTAI KARTANEGARA – Founder Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Danielle Kreb mengklarifikasi populasi ikan Pesut Mahakam. Yang belakangan ini viral di sosial media jumlahnya tersisa 41 ekor adalah tidak benar.
“Saya tidak tahu kenapa mereka mengunggah dan menggunakan nama saya, karena saya tidak pernah mengucapkan sisa 41,” kata Daniel saat diwawancarai via telepon, Selasa (28/6/2022).
Dia menjelaskan dari datanya sejak 2016 sampai 2021 jumlah hewan endemik tersebut berjumlah 67 ekor.
“Minimalnya segitu, kalau maksimanya 74 ekor,” terangnya.
Menurut analisisnya, angka kelahiran Pesut relatif seimbang yakni lima ekor per tahun dan kematiannya enam ekor.
Pihaknya menambahkan, faktor kematiannya disebabkan beberapa faktor, seperti alami karena umur, terjebak jaring, tertabrak kapal dan terkena racun.
Dalam mengantisipasi penyalahgunaan menangkap ikan, RASI selalu memberikan sosialisasi kepada nelayan. Selain itu harus ada tindak tegas dari penegak hukum yang berpatroli di perairan.
“Kalau perlu ada Perdanya yang mengatur, misalnya melarang ukuran mata rengge yang besar karena pesut sering kena,” jelasnya.

Daniel menerangkan pihaknya memiliki program yakni alat finger yang dipasang di jaring ikan. Fungsinya untuk memberikan frekuensi tinggi, sehingga ketika pesut berenang mengarah ke jaring, dia merasa terganggu.
“Saat ini sudah 155 orang yang memiliki alat itu, kalau nanti sudah musim ikan mereka pasang itu,” ujarnya.
Alat tersebut sebagian besar sudah dibagikan ke wilayah yang ada pesut mahakam. Hanya beberapa saja yang masih diusahakan untuk dibagikan kepada nelayan. Seperti Kecamatan Muara Kaman, Kota Bangun, Muara Muntai, Muara Wis dan Kabupaten Kutai Barat. (zu)












