KUTAI KARTANEGARA – Diduga ada aktivitas tambang batu bara ilegal di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar). Hal ini membuat protes bagi ratusan warga sekitar dari beberapa desa yakni Desa Sumber Sari, Desa Sepakat, dan Ponoragan.
Aksi demonstasi pun terjadi di lokasi tambang ilegal tersebut pada Rabu (3/8/2022). Kepala Desa Sumber Sari Sutarno ikut menjadi bagian dari penolakan masyarakat dan memimpin jalannya aksi.
Warga tidak terima dengan adanya aktivitas tersebut, lantaran Desa Sumber Sari merupakan lumbung pangan di Kabupaten Kukar. Ditambah sudah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan komoditas padi dan menjadi kawasan desa wisata.
“Artinya Desa Sumber Sari memang kalau untuk kegiatan tambang mestinya sudah tidak ada,” kata Sutarno.
Lokasi aktivitas tambang itu persisnya berada dekat dengan perbatasan wilayah Desa Loa Sumber, Loa Kulu. Meskipun lokasinya jauh dari permukiman, namun dampaknya sangat dirasakan oleh warga.
Bahkan, aktivitas tersebut berdampak terhadap pencemaran Sungai Pelay yang mengalir menuju Desa Sumber Sari, Seapakat dan Ponoragan. Diketahui, sungai itu menjadi satu-satunya mata air yang digunakan warga untuk menyirami lahan pertanian di beberapa desa tersebut.
Atas dasar hal itu, ketiga desa yang terdampak menentang keras adanya aktivitas tambang ilegal tersebut, agar kawasan tanaman pangan diwilayah mereka tetap terjaga. Terlebih lagi ada kurang lebih 300 hektare lahan persawahan di Desa Sumber Sari.
Kemudian 50 hektare kawasan tanaman hortikultura dan 10 hektare kolam pengembangan bibit ikan. “Jadi memang wajar sekali masyarakat marah ketika melihat kondisi seperti ini,” tegasnya.
Sutarno mengklaim aktivitas tambang ini tidak mengantongi izin desa. Bahkan, pihak penambang tidak pernah melakukan kominikasi dengan desa.
“Sampai sekarang izin dengan kami di desa tidak ada dan pihak penambang tidak ada berkomunikasi dengan kami di desa,” bebernya.

Informasi adanya aktivitas tambang tersebut diketahui warga sejak hari Kamis tanggal 27 Juli 2022 yang lalu. Saat melakukan aksi, masyarakat tidak menemui adanya aktivitas di lokasi tambang tersebut. Padahal baru kemarin mereka mendapati beberapa alat berat yang sedang beroperasi di lokasi tambang tersebut.
Mereka pun berharap dengan adanya aksi ini, kegiatan yang merugikan maysarakat itu dihentikan. Masyarakat juga bersepakat untuk tetap menentang dan menghentikan aktivitas ini jika masih dilanjutkan.
Salah seorang petani Desa Sumber Sari Hariyono Kusnan menyebut, dampak dari aktivitas tambang tersebut sangat dirasakan bagi kalangan petani. Bahkan beberapa hari yang lalu air di Sungai Pelay yang menjadi sumber air untuk menyirami tanaman mereka sempat keruh.
“Kalau kemarin keruh, cuma kena hujan hilang (jernih lagi). Kalau beroperasi lagi ya keruh lagi,” ungkap Hariyono.
Diketahui, mayoritas masyarakat Desa Sumber Sari adalah petani. Baik petani sawah maupun hortikultura. Bahkan hidup mereka pun bergantung terhadap hasil pertanian dan sumber air untuk menyirami tanaman itu juga bergantung di Sungai Pelay.
Jika sungai itu tercemar, maka hasil pertanian tidak akan maksimal. Sedangkan tanaman hortikultura harus dirawat dengan melakukan penyiraman air secara rutin di waktu pagi dan sore.
“Di situlah penghasilan kami, kalau ini (Sungai Pelay) terganggu pasti terasa. Karena tanaman kalau berkelanjutan pasti layu, rusak, dan akan gagal panen,” keluhnya.
Saat di lapangan, pihak Polsek Loa Kulu melakukan pemantauan dan pendampingan agar aksi berjalan dengan lancar. Namun, Kapolsek Loa Kulu, AKP Dedy Setiawan enggan memberikan komentar saat didatangi awak media, “Gak ada tanggapan,” singkatnya. (zu)












