SAMARINDA – Akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino, harga beras di Kota Samarinda mengalami kenaikan. El Nino merupakan kenaikan suhu di permukaan laut di bagian timur Samudra Pasifik yang juga mengancam produksi pangan, termasuk padi.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda Marnabas Patiroy menuturkan, gejolak harga beras ini terjadi di seluruh daerah di Indonesia sebagai dampak fenomena El Nino.
Dampaknya banyak petani gagal panen, sebab sawahnya dilanda kekeringan. Sedangkan hingga sekarang, Samarinda masih ketergantungan pasokan beras dari Jawa dan Sulawesi.
“Satu kilogram berasnya dihargai Rp10.500, padahal sebelumnya harga normal dijual Rp8.600 per kilogram. Itu baru beras Bulog, belum yang lainnya,” kata Marnabas, Senin (4/9/2023).
Dia mengaku Disdag Samarinda telah melaporkan persoalan ini kepada Wali Kota Samarinda Andi Harun. Juga berkoordinasi dengan pihak Bulog untuk menggelar operasi pasar.
“Malamnya pada 29 Agustus 2023 kami sudah bersiap menggelar operasi pasar untuk tanggal 30 dan 31, akhirnya kami bergerak melakukan operasi pasar,” imbuhnya.
Disdag Samarinda juga telah menyiapkan 84 ton untuk didistribusikan ke 10 kecamatan dengan mengikuti harga normal. Yakni Rp 8.600 per kilogram pada saat operasi pasar.
“Kami tetap menjual di harga normal, karena ongkos kirimnya ditanggung pemerintah kota. Untuk beras ada di ukuran 5 kilogram yang disediakan,” ungkap Marnabas.
Untuk sasaran distribusinya juga dikhususkan bagi masyarakat dari ekonomi menengah ke bawah. Dengan sistem setiap kecamatan dan kelurahan melakukan pendataan untuk warga yang memang berhak menerima beras pada gelaran operasi pasar.
“Kecamatan dan kelurahan yang tahu mana saja warganya yang diprioritaskan atau yang membutuhkan,” pungkasnya. (nt)












