KUTAI KARTANEGARA – Sebanyak 400 penari memukau ribuan penonton dalam drama kolosal pembukaan Erau Adat Kutai 2025 di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Minggu (21/9/2025). Mereka menampilkan kisah perjuangan dan cinta Sultan Aji Muhammad Idris, dipadukan dengan tarian, dialog, hingga ekspresi teatrikal.
Pertunjukan yang digarap oleh Yayasan Terminal Olah Seni (TOS) ini menjadi suguhan utama pada rangkaian Erau. Ketua TOS sekaligus pimpinan tim produksi, Deprianur, mengatakan jumlah penari tahun ini memang lebih sedikit dibandingkan 2024 yang mencapai 800 orang. Meski begitu, semangat peserta tak kalah besar.
“Anak-anak tampil luar biasa. Meski jumlahnya separuh dari tahun lalu, kualitas penampilan tetap terjaga. Justru dengan 400 penari, formasi lebih rapi dan ekspresinya bisa lebih maksimal,” ungkapnya.
Deprianur menambahkan, persiapan dilakukan hanya melalui 28 kali pertemuan latihan. Namun para penari tetap mampu menyuguhkan pertunjukan penuh energi.
“Mereka tidak hanya menari, tapi juga diminta berekspresi dengan mimik wajah yang kuat. Itu membuat cerita semakin hidup,” jelasnya.
Para penari berasal dari berbagai kecamatan di Kutai Kartanegara, mulai Tenggarong, Loa Kulu, Jembayan, hingga Tenggarong Seberang. Keragaman itu menambah warna sekaligus memperlihatkan antusiasme masyarakat Kukar dalam melestarikan budaya.
Drama kolosal yang mengangkat tema “Menjaga Marwah Peradaban Nusantara” ini tak hanya menandai pembukaan Erau, tetapi juga menunjukkan bagaimana seni pertunjukan bisa menjadi ruang kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan sejarah.
“Meski dengan keterbatasan, kami tetap tampil sepenuh hati. Karena yang terpenting bukan hanya jumlah penari, tetapi bagaimana semangat melestarikan budaya bisa tersampaikan,” tegas Deprianur. (fjr)












