Di Balik Layar: Kisah Bagus Pratama Berkarya dalam Gempuran AI dan Ide yang Tak Gratis

Di Balik Layar: Kisah Bagus Pratama Berkarya dalam Gempuran AI dan Ide yang Tak Gratis
Bagus Pratama, seorang Videografer sedang mengabadikan momen dalam sebuah acara. (Dok. Bagus Pratama)

SAAT video diputar, orang-orang takjub melihat hasilnya. Namun tak semua orang mampu memahami proses kerja dibaliknya.

Di layar, semuanya tampak sederhana. Ada potongan video yang rapi, transisi yang halus, musik yang pas.

Sebuah video bisa selesai ditonton dalam hitungan menit bahkan detik. Tetapi di balik layar, ada waktu yang panjang, pikiran yang terkuras, dan proses yang sering kali tak terlihat.

Belakangan, dunia kreatif kembali jadi perbincangan hangat. Seorang videografer di Karo dituding melakukan markup anggaran. Alasannya sederhana, editing dianggap bisa dilakukan gratis, apalagi di era kecerdasan buatan.

Bagi Bagus Pratama, anggapan itu terasa menggelitik, sekaligus menyisakan keprihatinan. “Orang sekarang mungkin sudah terlalu percaya AI. Dikira semua bisa instan,” ucapnya dengan nada geram.

Bagus bukan orang baru di dunia videografi. Sejak 2020, Bagus menekuni bidang ini secara profesional.

Ketertarikannya sudah tumbuh jauh sebelumnya, sejak masa SMA. Dunia kreatif dilihatnya sebagai hal yang menarik. Sejak saat itu Bagus menyelam lebih jauh ke dunia yang kerap digandrungi anak muda.

Lalu muncul kesempatan lebih baik. Saat ketika diajak bergabung oleh Doni Satrio ke dalam tim Donispro Picture. Di sanalah ia belajar dari dasar. Bukan hanya soal teknis, tetapi juga cara berpikir sebagai kreator.

Baca Juga  Rajut Silaturahmi, Pj Gubernur Kaltim Gelar Buka Bersama di HUT Ke-54

Dari mengambil gambar, merekam video, hingga memproduksi video, semua pernah ia jalani. Pelan-pelan, Bagus memahami satu hal penting. Kreativitas bukan sekadar alat, tapi soal rasa dan gagasan. Karena itu, ketika editing video disebut bisa “gratis”, dia hanya tersenyum tipis.

“Yang orang lihat itu cuma klik-kliknya. Padahal yang paling berat itu ide,” ujarnya.

Baginya, proses editing bukan sekadar menyusun gambar. Ada emosi yang dirangkai, cerita yang dibangun, dan keputusan-keputusan kecil yang menentukan hasil akhir. Semua itu tidak datang dari mesin.

“Kita tetap menyunting manual. Satu per satu. AI itu membantu, tetapi bukan menggantikan,” katanya.

Di tengah perkembangan teknologi, Bagus tidak menampik bahwa alat kini semakin canggih. Bahkan, untuk kebutuhan tertentu, ia dan tim lebih sering menggunakan smartphone karena dinilai lebih praktis dan cepat.

Namun dirinya percaya, secanggih apa pun alatnya, tetap manusia yang menentukan arah karya. “Kalau tidak ada ide, ya tidak jadi apa-apa,” tegasnya.

Baca Juga  Sistem Pilkada via DPRD Kembali Mengemuka, Pemprov Kaltim Ikuti Arah Kebijakan

Perjalanan Bagus juga membawanya terlibat dalam berbagai proyek. Salah satu yang paling membekas adalah produksi film dokumenter bertajuk Nuju Erau, yang mengangkat kisah sederhana tentang pasangan suami istri dari kampung yang ingin menyaksikan kemeriahan pesta adat masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar).

Baginya, proyek seperti itu tidak hanya sekadar pekerjaan, melainkan pengalaman yang menuntut kesabaran dan totalitas. “Kalau film itu berat. Prosesnya panjang, harus benar-benar niat,” jelasnya.

Di luar proyek besar, Bagus juga aktif di dunia pernikahan, bekerja bersama berbagai vendor. Dia menyebut dunia kreatif sebagai ruang yang penuh kejutan, tapi juga tidak lepas dari tantangan.

Kadang tantangan itu datang dari hal-hal kecil. Pertemuan dengan orang-orang baru di lapangan, situasi yang tidak terduga, atau bahkan suasana hati yang tiba-tiba berubah.

“Namanya juga kreatif, pasti ada mentoknya,” ujarnya sambil tertawa ringan.

Namun dari semua pengalaman itu, ada satu hal yang ia yakini. Bertahan di dunia kreatif bukan hanya soal kemampuan, tapi juga tentang relasi.

Bagus percaya ungkapan “Banyak teman, banyak rezeki” itu nyata. Beberapa proyek yang dikerjakannya, datang dari kemampuan yang tak semua orang miliki, yakni relasi.

Baca Juga  Peringati Hari Lingkungan Hidup 2024, GBU Gelar Seminar Pertambangan Berwawasan Lingkungan

Pun, di tengah arus teknologi yang terus berkembang, Bagus tidak menolak kehadiran AI. Dia justru melihatnya sebagai alat bantu, bukan pengganti.

Pesannya sederhana, terutama untuk anak muda yang ingin terjun ke dunia kreatif. “Jangan cepat puas. Terus belajar, dan jangan jumawa,” ucapnya.

Bagus percaya, kerendahan hati adalah bekal penting untuk bertahan. Di balik layar yang sering dianggap sederhana, orang-orang seperti Bagus terus bekerja dalam sunyi, melewati proses yang panjang, dan dalam keyakinan bahwa setiap karya selalu punya cerita.

Dan proses panjang dibalik hadirnya sebuah mahakarya video, tak pernah benar-benar muncul tiba-tiba dan gratis. (fjr)

kampungbet kotabet kampungbet kampungbet