KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) menggelar konferensi pers Memory of Yupa di Taman Tanjong, Tenggarong, Jumat (17/10) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas sejarah dan budaya lokal melalui pengakuan nasional hingga internasional.
Plt Kepala Diarpus Kukar Rinda Desianti menjelaskan, Memory of Yupa merupakan program yang didaftarkan ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk diakui sebagai memori kolektif bangsa. Sementara itu, tujuh prasasti Yupa dari Muara Kaman juga tengah diajukan Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kaltim ke organisasi PBB untuk kebudayaan, UNESCO, agar mendapat pengakuan sebagai warisan dokumenter dunia.
“Yupa Muara Kaman adalah arsip lokal yang menjadi cermin nasional. Dari Kutai Kartanegara, kami ingin menguatkan masa lalu dan menata masa depan,” ujar Rinda.
Dia menjelaskan, tujuh prasasti Yupa ditemukan tahun 1879 di Bukit Ubus, Muara Kaman. Prasasti tersebut menjadi bukti sejarah pemerintahan Kerajaan Mulawarman, yang dikenal memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh agama pada masa itu. Temuan ini menjadi tonggak penting sejarah peradaban Nusantara.
Sebagai bentuk sosialisasi, Diarpus Kukar akan menggelar sejumlah kegiatan pendukung, antara lain pameran arsip sejarah, talkshow dan seminar kebudayaan, lomba menulis bagi wartawan, pertunjukan seni tradisional, kegiatan mendongeng, serta tradisi beseprah atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan masyarakat.
Rinda menegaskan, Memory of Yupa tidak hanya menjadi agenda Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, tetapi diharapkan menjadi gerakan bersama untuk memperkuat identitas nasional dan budaya.
“Nilai strategis kebudayaan adalah melibatkan seluruh komponen masyarakat. Memperkuat identitas lokal bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh warga Kutai Kartanegara,” terangnya.
Ditambahkan, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Muara Kaman serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. “Dengan diakuinya Memory of Yupa, Kutai Kartanegara akan semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional,” imbuh Rinda.
Lebih lanjut dia berharap agar warisan budaya ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi pencapaian Indonesia Emas 2045. Sekaligus mendukung visi Bupati Kukar menjadikan daerah sebagai fondasi pangan, pariwisata, industri hijau, dan kebudayaan yang berkelanjutan. (fjr)












