KUKAR IDAMAN SEP 26

Rudy Mas’ud Setuju Pecat Ajudan Usai Didemo Mahasiswa

Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud menanggapi aspirasi mahasiswa.

SAMARINDA – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud menyatakan akan mencopot Asky Rizal Toding dari posisi ajudannya dan mengembalikannya ke kesatuan asal. Pernyataan itu disampaikan saat Rudy menemui mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi di halaman Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (21/10/2026).

Di hadapan massa, Rudy menyatakan kesediaannya memenuhi tuntutan mahasiswa terkait insiden yang melibatkan Asky dengan sejumlah mahasiswa pada Senin (19/10/2026).

Rudy awalnya meminta demonstran tetap tenang sebelum menanggapi tuntutan tersebut. Ia kemudian menyatakan akan mengambil tindakan terhadap ajudan yang menjadi sorotan setelah insiden itu ramai diperbincangkan.

“Berkenaan tadi yang pertama, saya pribadi… saya ingin menyampaikan… kita pecat. Setuju kita pecat?” ujar Rudy di hadapan massa.

Baca Juga  Salehuddin Dorong Pengelolaan TPA yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Ekonomi Rakyat

Pernyataan itu langsung disambut seruan setuju dari mahasiswa. Rudy lalu menegaskan bahwa Asky akan ditarik dari tugasnya sebagai ajudan dan dikembalikan ke kesatuan tempatnya bertugas.

“Kita tarik beliau, kita kembalikan ke satuannya. Aman itu. Itu beres,” kata Rudy.

Tak hanya menyampaikan komitmen secara lisan, Rudy juga menyatakan bersedia menandatangani surat yang diserahkan perwakilan mahasiswa pada hari yang sama.

“Suratnya bisa ditandatangani, hari ini saya tandatangani di sini,” ujarnya.

Tuntutan pencopotan itu berkaitan dengan insiden di halaman Masjid Nurul Mukminin, kompleks Pemprov Kaltim, pada Senin (19/10/2026).

Peristiwa tersebut terjadi setelah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda menggelar aksi terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seusai aksi, mahasiswa bersiap meninggalkan lokasi ketika waktu Magrib tiba.

Baca Juga  Tak Dipanggil Timnas Indonesia, Borneo FC Pamerkan Statistik Nadeo Argawinata

Salah seorang kader GMNI, Rossa Tri Rahmawati, sebelumnya merekam kedatangan Rudy dan mempertanyakan alasan gubernur tidak menemui mahasiswa saat demonstrasi berlangsung.

Menurut Rossa, setelah Rudy melewatinya, seorang ajudan kemudian menangani atau berupaya menangani telepon genggam miliknya. Kader GMNI lainnya, Ridwan, juga mengaku mengalami kontak fisik dengan ajudan tersebut hingga situasi memanas.

Insiden itu kemudian menjadi sorotan di media sosial. Asky pun menyampaikan permohonan maaf melalui video klarifikasi yang beredar.

Dalam video tersebut, polisi berpangkat brigadir satu itu mengakui sikapnya arogan dan menyebut tindakannya sebagai kesalahan yang tidak dapat dibenarkan. Ia juga mengatakan perbuatannya dilakukan secara spontan, tanpa instruksi dari siapa pun, serta berjanji tidak mengulanginya.

Baca Juga  Jadi Seleksi Talenta Atlet ASN, Sekda Harap Porprov III Korpri Kaltim Berlangsung Sukses 

“Saya menyadari bahwa tindakan saya tersebut adalah sebuah kesalahan dan telah menimbulkan ketidaknyamanan serta tidak ada pembenaran atas perbuatan saya,” ujar Asky. (zu)