KUKAR IDAMAN SEP 26

Karhutla Samarinda Meluas hingga 670 Hektare, Fraksi PKS DPRD Samarinda Soroti Kesiapsiagaan Pemerintah

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Samarinda, Arif Kurniawan. (Istimewa)

SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda sepanjang musim kemarau 2026 kian mengkhawatirkan. Hingga pertengahan Oktober, luas lahan yang terbakar dilaporkan mencapai 670,23 hektare dalam 281 kejadian.

Besarnya dampak kebakaran tersebut menjadi perhatian Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Samarinda, Arif Kurniawan. Ia meminta pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.

Menurut Arif, upaya penanganan perlu ditopang kesiapan personel, peralatan, anggaran, serta koordinasi antarpihak. Terlebih, kebakaran yang terus terjadi berpotensi memperluas wilayah terdampak dan meningkatkan risiko bagi masyarakat.

“Penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah, apalagi jika kebakaran terus terjadi dan wilayah terdampaknya semakin luas. Kita membutuhkan dukungan peralatan, personel, anggaran, serta koordinasi yang lebih kuat agar upaya pemadaman dan pencegahan bisa berjalan maksimal,” kata Arif.

Baca Juga  Jadi Komoditas Ekspor, Produk Perikanan Kaltim Tak Pernah Ditolak

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda yang diberitakan ANTARA pada Jumat (16/10/2026) mencatat 281 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 670,23 hektare.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan awal bulan. Pada 4 Oktober 2026, luas kebakaran tercatat 608,18 hektare. Tiga hari kemudian, jumlahnya bertambah menjadi 643,27 hektare dengan 259 kejadian.

Sejumlah kawasan terdampak meliputi Kecamatan Sambutan, Palaran, dan Samarinda Utara. Di Kecamatan Sambutan, kawasan Pulau Atas dan Pelita 8 menjadi perhatian karena kebakaran berulang dan kondisi medan yang menyulitkan petugas melakukan pemadaman.

Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, sebelumnya menjelaskan bahwa penanganan kebakaran di Pulau Atas terkendala belukar kering dan akses menuju lokasi yang terbatas. Kondisi lapisan bawah tanah juga berpotensi membuat api bertahan lebih lama.

Baca Juga  DPRD Samarinda Hearing Bersama Disdikbud, Harapkan Prioritas Insentif Guru ABK

Untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses kendaraan pemadam, petugas menerapkan sistem estafet mobil tangki guna memasok air ke lokasi.

Dampak karhutla juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan. Data Dinas Kesehatan Samarinda yang disampaikan pemerintah kota mencatat 4.664 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama Oktober 2026 hingga laporan pertengahan bulan.

Namun, angka tersebut merupakan jumlah kasus ISPA yang tercatat dan tidak serta-merta menunjukkan seluruh kasus disebabkan langsung oleh asap karhutla.

Di tengah memburuknya kondisi udara, Pemkot Samarinda juga menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi sekolah yang terdampak asap. Pemerintah kota turut memperkuat koordinasi dengan TNI Angkatan Udara untuk mendukung pemantauan titik panas dan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.

Baca Juga  DPRD Kukar Soroti Beban Biaya PPPK yang Ditempatkan Jauh dari Domisili

Arif menilai berbagai langkah tersebut perlu dibarengi strategi pencegahan yang berkelanjutan. Pemetaan kawasan rawan, penyediaan sumber air, serta peningkatan kemampuan personel dinilai penting untuk mempercepat penanganan ketika kebakaran muncul.

Ia berharap penguatan sarana dan kesiapan petugas dapat membuat kebakaran lebih cepat dikendalikan sebelum meluas ke kawasan permukiman maupun mengganggu aktivitas masyarakat. (zu)