KUKAR IDAMAN SEP 26

Gerah dengan Sikap Pemprov Kaltim Soal Karhutla, TRC PPA: Apa Tunggu Mati Massal Dulu?

Gerah dengan Sikap Pemprov Kaltim Soal Karhutla, TRC PPA: Apa Menunggu Mati Massal Dulu?
Ketua TRC PPA Kaltim Rina Zainun menyampaikan orasinya dalam aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur, Senin (19/10/2026). (istimewa, dipertajam dengan AI)

SAMARINDA – Sikap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khususnya Gubernur Rudy Mas’ud menjadi sorotan. Pasalnya Gubernur menyebut kondisi udara masih aman, sementara asap telah merenggut korban jiwa dari kalangan anak-anak.

Hal itulah yang menjadi inti aksi demonstrasi Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim di depan Kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gajah Mada, Samarinda, Senin (19/10/2026). 

“Aksi hari ini berkaitan dengan bayi yang meninggal, dugaan karena asap. Dan ada beberapa anak yang pernah kami kunjungi di rumah sakit juga kena ISPA. Ada yang terpapar di daerah Pelita 8 dua anak, satu sudah masuk rumah sakit karena ispa, satu karena terpapar,” terang Ketua TRC PPA Rina Zainun.

Baca Juga  Warga Desa Muara Badak Ulu Nantikan Pabrik Pengolahan Rumput Laut

Karena itu TRC PPA memprotes ucapan Gubernur Rudy Mas’ud yang menyebut udara Kaltim baik-baik saja. Padahal kenyataannya asap karhutla telah menelan korban jiwa. 

TRC, sebut Rina, sejatinya tidak pernah menggelar aksi demonstrasi ke pemerintahan. Namun karena peristiwa kali ini berkaitan dengan nyawa anak, maka pihaknya tidak bisa diam. 

“Kami gerah, selama ini kami membersamai tim relawan Damkar, Babinsa, Bhabinkamtibmas di lapangan, BPBD sampai di tengah malam, bersama pihak-pihak ambulans segala. Itu mereka kami support makanan dan minuman, mereka kadang kehausan kelaparan untuk memadamkan api, dan mereka yang menghirup (asap),” beber Rina.

Baca Juga  Pemprov Kaltim Bakal Alokasikan Dana Jaminan Sosial untuk Pekerja Informal

“Pedulikah mereka (Pemprov, red.) dengan itu? Enggak peduli, sampai berkata aman-aman saja dan bahkan tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. Apa menunggu mati massal dulu, apa menunggu masyarakat mati massal dulu?” sambungnya. 

Rina sendiri mengaku ikut mengalami sakit akibat terlibat dalam penanganan karhutla. Sampai-sampai dirinya membutuhkan dua tabung oksigen saat jatuh sakit selama dua pekan. Bila kondisi orang dewasa saja sudah separah itu, kata dia, tentu akan lebih membahayakan bila terjadi pada bayi. 

“Ini sampai kapan pemerintah mau peduli? Sampai ada bayi meninggal? Bayangkan, bahkan ada statement bahwasanya (bayi) itu bukan meninggal karena sesak napas karena asap. Padahal ibu korban sudah menjelaskan, bahwasanya bayi itu tidak mengalami gangguan pernafasan di awal, tidak ada, malah hanya penyakit gangguan keterlambatan tumbuh kembang,” urai Rina.

Baca Juga  Pemkab Kukar Rencanakan Demplot Pengembangan Pupuk Organik

“Kenapa? Pernah enggak mereka datang ke situ melayat atau mengetahui kondisi bayi meninggal? Tidak ada,” imbuhnya. (xl)