KUTAI KARTANEGARA – Popy Primawati Andriani bukan pendamping lokal desa (PLD) biasa. PLD di Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar) ini menorehkan prestasi dengan sukses memberdayakan masyarakat khususnya para perempuan.
Bukan hanya di Anggana, kaum hawa di daerah lainnya turut diberdayakan menghasilkan produk kerajinan manik khas Kaltim yang. Hebatnya produk kerajinan ini secara rutin diekspor ke Belanda dan Malaysia.
Semua bermula di 2015. Ceu Popy, begitu perempuan ini kerap disapa, hanya memproduksi makanan ringan Cireng. Tiga tahun berselang di 2018, dirinya menjajal menambah varian produknya yaitu kerajinan manik-manik. Kerajinan ini turut dikombinasikannya dengan anyaman purun.
Menurut Popy, apa yang dilakukannya itu juga memberdayakan lebih banyak ibu rumah tangga (IRT). Khususnya IRT yang suaminya menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta para istri nelayan dengan penghasilan tidak menentu.
“Mereka saya ajak bergabung dan saya latih untuk membuat kerajinan manik dan purun. Saya bersyukur usaha ini jalan,” kisahnya dikutip dari siaran resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar.
Kerajinan manik jadi pilihan Popy lantaran merupakan kearifan lokal Kaltim. Di satu sisi bahan dasar kerajinan purun banyak tumbuh di Kaltim. Hal inilah yang lantas dimanfaatkan untuk menjadi sesuatu yang bernilai seperti tas sepatu yang juga dipadukan dengan manik.
Dari usaha yang dirintisnya itu, Ceu Popy kini sudah memberdayakan 80 orang pemanik perempuan dan dua orang pemanik laki-laki. Produknya sudah merambah pasar internasional, dengan ekspor rutin dilakukan ke Belanda dan Malaysia.
Prestasi sang PLD lantas membuatnya diundang United Nations Development Program (UNDP), lembaga di bawah naungan PBB. Popy terlibat dalam Dialog Nasional bersama 15 participant YOUTH COLAB UNDP se-Indonesia di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Jakarta, pada 2019 lalu. (xl)












