Harga Beras di Samarinda Naik, Pembeli dan Pedagang Mengeluh

Harga Beras di Samarinda Naik, Pembeli dan Pedagang Mengeluh
Kenaikan harga beras yang signifikan membuat omzet pedagang menurun.

Kenaikan harga beras yang signifikan membuat omzet pedagang menurun.

SAMARINDA – Selama dua pekan terakhir, harga beras di Samarinda mengalami kenaikan yang signifikan. Kenaikan harga beras tersebut bukan hanya dikeluhkan oleh pedagang beras, tetapi juga masyarakat.

Kenaikan harga beras ini salah satunya terjadi di pasar tradisional Segiri di Jalan Pahlawan. Harga beras yang sebelumnya Rp300 ribu per karung ukuran 20 kilogram, kini naik menjadi Rp325 ribu.

Naiknya harga beras hingga mencapai Rp25 ribu per karung ini pun dikeluhkan oleh masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga. Aspiah (36) salah satunya, ibu tiga anak ini biasanya membeli beras seharga Rp305 ribu per karung. Tetapi saat ini dia terpaksa memberi beras seharga Rp325 ribu per karung. Mahalnya kebutuhan pangan pokok ini membuat masyarakat keberatan.

Baca Juga  Wagub Kaltim Sebut Ancaman Bangsa Akan Selalu dan Tetap Ada

“Baru kemarin aku beli, tadi beli lagi naik terus. Kalau bisa turunkanlah, kasihan lauk pauknya sudah mahal. Memang ada beras yang lebih murah, tetapi tidak enak, bau,” kata Aspiah di Pasar Segiri, Jumat (8/9/2023).

Sementara itu pedagang beras di Pasar Segiri, Kahar (35) mengatakan, kenaikan harga beras sudah terjadi selama dua pekan. Kenaikan berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per karung.

“Ada kenaikan. Kenaikannya per karung itu ada yang Rp15 ribu,” kata Kahar.

Baca Juga  DPRD Samarinda Dorong Pemkot Bantu UMKM Jual Produk Lokal ke Pasar Modern

Menurutnya, naiknya harga beras di Samarinda ini diduga dipicu akibat daerah penghasil beras di Pulau Sulawesi sedang mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Sehingga banyak petani padi yang menunda panen atau bahkan mengalami gagal panen.

Hingga saat ini para pedagang terpaksa hanya mengandalkan pasokan beras dari pihak Bulog, sedangkan pasokan beras lokal sudah cukup lama tak lagi masuk ke para pedagang beras di Samarinda.

“Di Sulawesi belum ada panen karena musim kemarau, otomatis produksi berkurang permintaan meningkat. Kalau beras lokal belum ada, ini saja kita dapat beras dari bulog,” beber Kahar.

Baca Juga  Wapres Sebut Bank Wakaf Mikro Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Naiknya harga beras ini membuat omzet para pedagang beras mengalami penurunan. Pasalnya, sebagian besar masyarakat pun memilih untuk mengurangi pembelian beras, yang biasanya membeli satu karung beras kini hanya membeli maksimal 10 kilogram saja. (nt)