JAKARTA – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir mengajak semua pihak terkait untuk bersatu bersama mengembangkan sport tourism dan sport industry di Tanah Air. Meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, hingga masyarakat.
“Tentu peran kami di Kementerian Pemuda dan Olahraga tidak hanya fokus kepada prestasi olahraga, tetapi ada dua hal olahraga yang memang kita soroti, yang harus kita kembangkan yaitu sport tourism dan sport industry,” ujar Menpora saat menjadi narasumber dalam Konferensi Pers Pocari Sweat Run 2026 di Gedung Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Kamis (22/1/2026) siang.
Menurut Menpora Erick, pengembangan keduanya penting khususnya dalam meningkatkan indeks masyarakat Indonesia berolahraga. Sebagai perbandingan, indeks olahraga negara Jepang yang penduduknya makin tua secara umur, justru mencapai hampir 69 persen. Sementara untuk Indonesia dengan kelompok umur yang muda, partisipasinya tercatat hanya 15.
“Untuk itu kita perlu mendorong ragam event yang tentu menarik diikuti masyarakat, seperti Pocari Sweat Run. Dalam Pocari Sweat Run ini misalnya, di luar dari para pelari yang berprestasi, bagaimana para pelari lain yang mengikutinya bisa menyehatkan diri dengan berlari,” urai Menpora.
Sebagai kegiatan yang positif, Menpora Erick mengharapkan ajang lari maraton seperti Pocari Sweat Run ini bisa makin masif digelar. Salah satunya melalui kerja sama semua pihak, baik pemerintah maupun swasta. Termasuk perihal infrastruktur pendukungnya, perlu mendapat perhatian dari pemerintah untuk diperbaiki supaya lebih representatif.
Menpora mencontohkan penyelenggaraan maraton di New York atau di Tokyo yang bisa mencapai puluhan ribu. Hal tersebut dimungkinkan mengingat jalanan pada kota-kota tersebut memiliki lebar hingga 25 meter.
“Nah hal-hal ini yang saya rasa bisa saling mendukung, baik pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, masyarakat, yang bisa terus meningkatkan kualitas ajang olahraga seperti Pocari Sweat Run ini,” tegas Menpora Erick.
Kata Menpora, Indonesia sebagai negara besar di kawasan Asia Tenggara sejatinya mampu melakukan pembangunan sport tourism. Tidak kalah dari negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand atau Singapura. Kuncinya ada pada kolaborasi dan konsolidasi lintas sektor, baik pemerintah di pusat maupun daerah, sektor swasta, masyarakat, hingga tokoh-tokoh yang representatif.
“Contohnya Jakarta Marathon, jumlah pesertanya sudah 35 ribu menuju 45 ribu. Saya lihat kalau di beberapa agenda maraton itu angkanya sudah hampir Rp300 miliar sampai Rp400 miliar. Jadi kita bisa kalau kita mau. Tinggal bagaimana kita sama-sama mendorong hal ini, jangan sampai market kita tergerus terus,” terang Menpora Erick. (xl)












