SAMARINDA – Ratusan titik panas terdeteksi di Kaltim. Sebagaimana diungkapkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan.
Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan BMKG Balikpapan Diyan Novrida, Rabu (2/8/2023) menyatakan, pihaknya mendeteksi 204 titik panas yang tersebar di Kaltim.
“204 titik hotspot tersebut terpantau berlangsung selama 24 jam. Sebaran titik panas tersebut ditemukan di 6 daerah di Kaltim yakni Paser 5 titik, Kutai Barat 3 titik, Kutai Timur 65 titik,” terang Diyan.
“Kemudian titik panas selanjutnya ditemukan di Kutai Kartanegara 40 titik, Berau 86 titik dan Mahakam Ulu 5 titik,” sambungnya.
Diyan mengatakan kemarau 2023 ini lebih kering dibandingkan tiga tahun. Fenomena ini berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional karena adanya ancaman gagal panen pada lahan pertanian tadah hujan.
“Fenomena El Nino dan IOD Positif saling menguatkan, sehingga membuat musim kemarau 2023 menjadi lebih kering dan curah hujan pada kategori rendah hingga sangat rendah,” paparnya.
Selain itu kondisi kekeringan ini juga dapat berujung kepada bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Yang jika tidak terkendali dapat menimbulkan krisis kabut asap yang berdampak pada kualitas lingkungan, ekonomi, sosial, hingga kesehatan masyarakat.
Karenanya BMKG mengimbau semua masyarakat untuk menjaga lingkungan agar tidak terjadi kebakaran. Seperti tidak melakukan pembakaran saat mengelola lahan serta tidak membuang putung rokok sembarangan.
“Semua pihak harus saling menjaga dan waspada agar tidak terjadi tambahan titik panas,” terang Diyan. (xl)












