
SAMARINDA – Warga Samarinda tengah dihebohkan dengan retaknya jembatan flayover yang menghubungkan Jalan Juanda menuju ke Jalan Abdul Wahab Syahranie. Sebelumnya, retakan tersebut hanya sekira 10 sentimeter. Namun kini sudah terlihat memanjang hingga 5 meter.
Sebuah video unggahan di media sosial Instagram memperlihatkan panjangnya retakan di flyover tersebut. Menanggapi hal itu, Anggota Komisi III Samri Shaputra mengatakan, keretakan yang terjadi di Jembatan flayover sudah biasa. Karena sudah beberapa kali terjadi, namun hanya ditambal begitu saja.
“Itu sebenarnya membahayakan keselamatan pengendara yang melintas di atas flyover. Harusnya ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, karena bangunan itu nilainya sangat besar,” kata Samri.
DPRD Kota Samarinda pun telah beberapa kali mendatangi jembatan flyover untuk melakukan sidak. Dan langsung mendapatkan perbaikan, namun sayangnya tidak bertahan lama.
“Saya tidak mengerti, itu karena sejak awal bangunannya sudah tidak bagus atau struktur tanah yang kurang baik. Jadi sudah berapa kali dibagusin, kembali lagi retaknya,” ujarnya.
Lebih lanjut Samri mengatakan, bangunan flyover ini bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah untuk membangun sebuah bangunan. Seperti mega
proyek di Samarinda, yaitu terowongan yang nilainya mencapai Rp400 miliar, dan Teras Tepian bernilai Rp600 miliar.
“Sangat disayangkan jika bangunan-bangunan yang memakai dana dari rakyat jika tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya, bisa marah rakyat nanti. Maka dari itu jangan asal membangun saja,” beber Samri.
Dia juga berharap pemerintah daerah bisa memberikan anggaran untuk perawatan bagi bangunan-bangunan yang ada di Samarinda.
“Jadi di Samarinda ini belum ada anggaran untuk perawatan. Maka dari itu hanya bisa membangun saja pemerintah ini, sedangkan uang khusus perawatannya tidak ada,” pungkasnya. (nta)












