Ragam  

Tepuk Sakinah KUA Tenggarong Viral, Punya Makna Filosofis tentang Rumah Tangga Harmonis

Tepuk Sakinah KUA Tenggarong Viral, Punya Makna Filosofis tentang Rumah Tangga Harmonis
Kepala KUA Kecamatan Tenggarong Naryanto saat diwawancarai di ruangannya, Rabu (8/10/2025). (fajar/komparasinews)

KUTAI KARTANEGARA – Belakangan ini masyarakat ramai memperbincangkan “Tepuk Sakinah”, baik di media sosial maupun dalam obrolan sehari-hari. Gerakan tepuk yang sempat viral itu ternyata merupakan bagian dari bimbingan perkawinan di Kantor Urusan Agama (KUA) Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Kepala KUA Tenggarong Naryanto menjelaskan, Tepuk Sakinah bukan sekadar hiburan, melainkan metode ice breaking atau pencair suasana selama kegiatan bimbingan perkawinan berlangsung.

“Tepuk Sakinah itu sebenarnya bagian dari bimbingan perkawinan. Fungsinya untuk mencairkan suasana agar kegiatan tidak monoton dan calon pengantin lebih semangat mengikuti materi,” ujarnya saat ditemui di Kantor, Rabu (8/10/2025).

Baca Juga  Pacu Jalur Viral di TikTok, Pemerintah Sebut Sudah Terdaftar Warisan Budaya Nasional

Metode ini didapatkan saat para Calon Pengantin (Catin) saat mengikuti pelatihan bimbingan perkawinan. Selama ini, kegiatan bimbingan bagi catin sering kali dianggap membosankan karena hanya berisi ceramah. Karena itu, Kementerian Agama (Kemenag) mendorong inovasi agar bimbingan lebih interaktif dan menarik.

Menurut Naryanto, antusiasme peserta meningkat sejak metode Tepuk Sakinah diterapkan. Selain membuat suasana lebih hidup, gerakan tepuk ini juga memiliki makna mendalam.

Baca Juga  Buka Raimuna Kwarcab, Bupati Kukar Minta Pramuka Terus Kreatif dan Andal

“Kami senang karena video Tepuk Sakinah yang diikuti peserta KUA Tenggarong bisa sampai ke masyarakat. Di balik gerakan itu, ada makna filosofis tentang keharmonisan dan nilai-nilai dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah,” tuturnya.

Naryanto menambahkan, bimbingan perkawinan rutin dilaksanakan setiap hari Kamis di KUA Tenggarong. Catin yang telah mendaftar dianjurkan hadir sebelum melangsungkan pernikahan untuk mengikuti pembekalan.

“Kami ingin calon pengantin datang dengan kesadaran sendiri. Karena dulu ketika hanya diundang, peserta yang hadir sedikit,” kata Naryanto. (fjr)