Ragam  

Merawat Intelektualisme

Islam sebagai Alternatif Paradigma dan Epistemologi Ilmu Pengetahuan
Muhammad Dudi Hari Saputra.

Oleh M. Dudi Hari Saputra*

SAYA pernah menyampaikan bahwa pentingnya menjaga intelektualitas dalam sebuah organisasi, bukan politik, sampai pernah disindir bahwa jangan pernah batasi kader, karena tidak semua berbakat di intelektual.

Begini, yang saya maksud adalah intelektualitas sebagai isme (ideologi), bukan profesi atau kedudukan.

Jadi silahkan mau memiliki profesi apapun sesuai bakat dan minat masing-masing, tetapi intelektualnya tetap dipegang dan dipertahankan, apalagi jika itu adalah kader pelajar atau mahasiswa yang identik sebagai kaum cerdik cendekia.

Baca Juga  Desa Wisata Benua Elai Diresmikan, Bupati Pesan Tanam Berbagai Macam Bunga

Karena intelektualisme itu bukan hanya membuat wawasan kita menjadi luas dan dalam, tetapi membimbing tindakan dan keputusan kita dalam bertindak berdasarkan koridor logika, argumentasi dan rasionalitas.

Karena tanpa itu, yang menjadi jalan adalah jalur kekuatan otot bukan pikiran, dan hal ini akan membuatnya secara natural keluar dari khitohnya sebagai kader pelajar atau mahasiswa yang identik dengan intelektualitas.

Dalam struktur relasi manusia sebenarnya ada beberapa bentuk, yakni stuktural (kuasa), intelektual (ilmu pengetahuan), kultural (budaya) dan spiritual.

Baca Juga  Waspadai Dampak Cuaca Tak Menentu, Wawali Klaim Inflasi Samarinda Masih Terkendali

Jika dipisahkan, niscaya akan tidak maksimal outputnya, misal cuma mengedepankan aspek struktural tapi tanpa intelektual dan kultural, maka yang terjadi adalah relasi kuasa yang rentan konflik.

Sekedar pendapat, semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.

*Ditulis oleh Muhammad Dudi Hari Saputra, Sekretaris Eksekutif Indonesia Public Policy & Business Development (IP&B) – Jakarta.