KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan perempuan dan anak-anak. Plt Kepala DP3A Kukar Heru Suprayetno mengungkapkan, salah satu masalah yang sering mereka hadapi adalah pernikahan dini yang marak terjadi di wilayah tersebut, khususnya di kalangan keluarga kurang mampu secara ekonomi.
Heru menjelaskan, pernikahan dini sering kali terjadi pada anak perempuan yang masih sangat muda. Banyak dari mereka yang belum siap secara mental dan fisik, karena usianya yang masih belia dan pendidikan yang belum selesai.
“Kami sering menangani kasus pernikahan dini yang berakhir dengan perceraian. Selain itu, kami juga mencatat banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga,” ungkapnya, Kamis (27/3/2025).
Menurut Heru, banyak perempuan kepala keluarga yang mengalami tekanan ganda. Mereka bekerja di luar rumah dan mengurus rumah tangga, sementara ekonomi rumah tangga mereka tidak mencukupi. Akibatnya, situasi ini sering menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga, baik terhadap perempuan maupun anak-anak.
“Tantangan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk memberikan perlindungan dan pemberdayaan,” tambahnya.
Selain itu, Heru juga menyoroti masalah keluarga besar yang mempengaruhi stabilitas ekonomi rumah tangga. Dalam beberapa kasus, keluarga dengan banyak anggota seringkali mengalami kesulitan ekonomi.
Pihaknya terus mendorong pentingnya program Keluarga Berencana (KB) untuk membantu mengatur jumlah anggota keluarga. Namun, bagi keluarga dengan kondisi ekonomi rendah, penggunaan alat kontrasepsi masih menjadi tantangan.
“Program KB memang sudah ada, namun untuk keluarga dengan ekonomi rendah, kadang mereka kurang memperhatikan pentingnya alat kontrasepsi,” jelas Heru.
Dia menambahkan bahwa keluarga dengan ekonomi lebih mapan umumnya lebih sadar akan pentingnya penggunaan kontrasepsi untuk merencanakan jumlah anggota keluarga.
Lanjut Heru, Fokus DP3A Kukar saat ini adalah pemberdayaan perempuan, khususnya perempuan kepala keluarga. Heru menyatakan bahwa meskipun usia perempuan kepala keluarga bervariasi, yang terpenting adalah mereka tetap produktif.
“Kami memberikan pelatihan dan bantuan sesuai dengan kapasitas mereka, agar mereka bisa lebih mandiri secara ekonomi,” ujar Heru.
Bagi perempuan yang sudah lanjut usia namun tetap memiliki tanggung jawab rumah tangga, DP3A Kukar akan bekerja sama dengan Dinas Sosial untuk memberikan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
Heru berharap, dengan adanya program-program tersebut, perempuan kepala keluarga dapat lebih mandiri dan tidak terjebak dalam kemiskinan serta dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga kesejahteraan keluarga. (adv/fjr)
situs togel situs slot situs slot bento4d bandar togel slot thailand











