“Malam Kami Tak Lagi Tenang” — Warga Purwajaya Masih Trauma Longsor

Foto : Tumpukan tanah dan ranting pohon masih terlihat di sekitar permukiman warga RT 3, Desa Purwajaya. Warga berharap pemerintah segera turun tangan menangani dampak bencana ini. (fajar/komparasinews)

KUTAI KARTANEGARA — Malam hari di Desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan tak lagi tenang seperti biasanya. Sejak tanah longsor menghantam RT 3, Senin (12/5/2025), rasa was-was menghinggapi banyak warga. Bagi Baim (30), malam bukan lagi waktu untuk istirahat, melainkan waktu untuk mengungsi.

“Kami tidak tidur di rumah kalau malam, kalau siang hari kami balik lagi. Takut tanah ini longsor lagi mengenai rumah,” katanya saat ditemui di depan rumahnya, Kamis (15/5/2025).

Rumah Baim kini berdiri di tepi tanah yang tergerus. Halaman depan dan sampingnya hilang tersapu longsoran. Rumah milik kakaknya, Dahniar, yang berada tak jauh dari situ, bahkan mengalami kerusakan lebih parah. Dinding rumah retak, pilar-pilar rusak, dan satu mobil serta satu sepeda motor tertimbun material longsor.

Baca Juga  Kunjungi Lima Balita Stunting, Bupati Kukar Bakal Perkuat Program Penurunan hingga ke Desa

“Iya, tanahnya bukan turun dari atas, tapi dari bawah. Ngedorong rumah. Pilar-pilarnya retak. Mobil dan motor ketimbun, tapi alhamdulillah orangnya selamat,” jelasnya.

Total ada 14 rumah terdampak. Sebagian besar warga kini hidup dalam kondisi serba tidak pasti. Empat orang mengalami luka ringan, dan seluruh lingkungan masih diselimuti kekhawatiran.

“Kalau takut? Ya pasti takut. Bisa longsor lagi nih kapan aja. Bisa aja rumah lain kena lagi,” lanjut Baim.

Gang Swadaya, jalan utama warga untuk beraktivitas, kini lumpuh. Tertimbun tanah dan pepohonan tumbang, jalan itu kini tak bisa dilalui, bahkan oleh pejalan kaki. Anak-anak yang biasa bermain di situ, kini hanya bisa melihat dari kejauhan.

Baca Juga  Bupati Paser Sebut Perumdam Tirto Kandilo Perlu Banyak Pembenahan

“Padahal rencananya tahun ini jalan itu mau diperlebar, tapi malah tertimbun longsor,” kata Baim, menggeleng pelan.

Meski bencana sudah terjadi beberapa hari lalu, warga mengaku baru sekali didatangi oleh petugas dari pemerintah kabupaten. Sementara itu, upaya pembersihan dilakukan secara swadaya—meminjam alat sendiri, bergotong-royong membersihkan pohon dan tanah yang menutup jalan.

“Kami pinjam mesin pemotong kayu sendiri, potong-potong kayu yang menimpa jalan dan rumah,” ungkapnya.

Warga tidak berharap muluk-muluk. Mereka hanya ingin kehadiran nyata dari pihak berwenang, bukan sekadar kunjungan atau rapat koordinasi.

“Kami minta cepat ditangani lah, jangan kebanyakan rapat-rapat saja, warga butuh action-nya,” tegas Baim.

Baca Juga  Majukan UMKM, Pemkot Samarinda Lirik Kerja Sama dengan Dompet Digital

Kini, setiap malam di RT 3, sebagian rumah dibiarkan kosong. Cahaya hanya menyala di siang hari. Warga memilih berjaga-jaga, menunggu kabar baik, sambil berharap tanah di bawah kaki mereka tidak kembali bergerak. (Fjr)